Rabu, 24 Maret 2010

Hyena Bermata Hitam

atas kebutuhan kuliah, kini saya ber blog ganda... ke Hyena Bermata Hitam
jadi untuk tulisan-tulisan yang tercemari bawaan akademis-akademis an, saya nulis disana aja deh kayaknya. :D atau mungkin nanti-nanti blog yang ini di non aktifin aja dan dipindahin kesana...sekalian moving on from the past gitu, hahah. Buka page baru, pindah buku diary. :P

Rabu, 10 Februari 2010

Ketika kita sama-sama menelan apa yang sempat kita muntahkan.

Apapun kutuk yang kau lempar untuk semua diluar dirimu--bukankah itu semua hanya pembenaranmu? Kita telah berjalan cukup jauh, untuk memahami bahwa kita tak akan pernah memahami kebenaran apapun, selain yang untuk diri kita sendiri.

Lucu untuk menatap cinta; cinta yang selalu kau koar-koarkan.
Dibalik tirai-tirai penyangkalan itu...nampaknya cinta apapun yang kita bicarakan, tak lebih dari cinta pada diri sendiri.
Aku tak mampu bicara hal abstrak seperti cinta kepada seseorang yang membuang cinta teman seperjalanan ketika ia tak membutuhkannya lagi.
Atau justru itu inti dari pembicaraanmu?
Segala cinta berbuih ludah yang kau cipratkan itu?
Apakah teman hanyalah teman ketika kita melihat bagian dari diri kita padanya?
Dan ketika ia menyangkalmu, apa membuangnya adalah semudah membuang tinja kemarin lusa?

Aku telah menatap ular yang terbaring di jalanku cukup lama.
Lidahnya berbisa; hanya racun yang dapat ia bagi kepadaku.
Selagi ia menggigitku, ia tersenyum manis, terlalu manis.
Kadang rasanya muak, tapi aku hanya menatapnya. Bertahun telah lewat tapi sulit untukku membencinya. Karena mungkin, ia menyembur racun hanya karena ia adalah ular--mungkin sungguh bukan salahnya. Tapi kamu tahu, bisa nya menari-nari dalam darahku. Nadi ku meretas karena ular itu. Dan kini ketika aku hendak beranjak meninggalkannya, entah rasa apa yang bermain dalam darahku ketika kutatap ular itu merengkuhmu sambil terkikik manja...dan kau membelainya.
Apa ia memberimu nyaman? Tahu kan, nyaman yang selalu kau kutuk itu.

Aku hilang hasrat mengatakan apapun kepadamu...yaya, lagipula bukankah kau adalah tuhanmu sendiri atau apalah itu. Jadi seperti katamu, kau memilih sendiri langkahmu.
Apa kita semua mati setelah hanya memori yang tersisa?
Kini setelah aku beranjak pergi dan memunggungimu, apakah benar kau akan mati bagiku? Membusuk, dead and crassed?
...karena aku pun bosan dengan melankolia tak berkesudahan.
Namun aku juga lelah dengan segala koar yang tak membawa kita kemana-mana.
Kau bertanya bukti, tapi mana buktimu??
Adakah dari kita yang hanya duduk diam disini, manja dalam orgasme-cinta-diri kita ini, memiliki bukti apapun untuk pembenaran yang gaungnya telah kita putar ulang berkali-kali?
Aku lelah dengan koar kita yang penuh pura-pura.
Terserah denganmu, tapi ketika aku masih menyembunyikan badanku dari peperangan langsung,, aku tak akan berpura-pura bahwa aku...tahu kan, sudah melakukannya.

Jadi mungkin ketika kita masih tetap menelan apa-apa yang sempat kita muntahkan;
untukmu ular dan para pemujamu, dan untukku...tangan apapun yang menyambutku di jalan ini.


talk the walk, walk the talk.
could you really really walk and talk at the same time.?

Sabtu, 28 November 2009

Mental Detox I : Nyoba puasa digital :D

Kalo satu dekade ke belakang mungkin masih relevan buat kita nyoba nolak TV sebagai sumber informasi dan sumber pengaruh pola keseharian, polarisasi dan kecenderungan mental...kayanya udah lewat zamannya. Hari ini, ngapain kita mesti adiksi sama tv ketika kita bisa pindahin adiksi kita ke tawaran (yang jumlahnya gak keitung) dari dunia digital? Imajinasi-imajinasi gak berujung dari ps, pc game, online game, social-network, mp3 dan video? Kebanyakan dari kita perlu untuk ngeblokir diri dari realitas yang kering, suasana yang bising, musik yang gak kita suka; kita perlu digitalized, dan asupan listrik itu mutlak pentingnya! Dan ketika kita bisa dapet informasi apapun yang kita mau dari search engine, penjelasan instan dari website-website review dan wikipedia; kenapa kita mesti repot-repot baca buku? Kalo bisa ketemu semua temen lewat internet, ngapain sering-sering ketemu kalo gak perlu-perlu amat? Itu kan berarti ongkos, usaha, dan energi. Ngapain curhat berulang-ulang kali, kalo bisa sekalian lewat blog? Capek-capek berusaha ngenalin karakter temen, kan ada situs network sosial dan chatting kalii. Hari ini, memang nyaris semua kebutuhan psikologis kita dipenuhin sama dunia digital...mulai dari kehidupan sosial, imajinasi, "adrenalin", dan proses kreatif.

Tentu aja, saya termasuk dari ratusan juta yang teradiksi dengan listrik dan dunia digital. Kalo listrik mati selama satu atau dua bulan, mungkin saya termasuk salah satu dari ratusan juta orang yang stress. Saya masuk dalam generasi yang udah kebiasa sama alat-alat elektronik, dan kemudahan komputer semenjak dekade pertama dalam hidup saya. Dan semenjak era internet, saya selalu haus akan pengetahuan apapun; apapun yang muncul di benak, emang tinggal ketik dan klik buat cari tau. Informasi masuk dalam kecepatan tinggi, bertumpuk-tumpuk, dan gak kestruktur.

Apa yang salah dari ini, selain ketergantungan saya sama listrik dan berkurangnya porsi relasi langsung saya sama dunia nyata di sekeliling saya?
Saya belom tau, tapi jelas ada sesuatu yang aneh disini. Jadi, untuk satu minggu kedepan (atau lebih, kalo saya bisa, haha) saya mau nyobain puasa digital. Saya cuma akan make hape saya yang gak bisa online, gak punya game dan gak bisa nyetel musik/video itu; kalo bener-bener perlu doang. Misalnya perlu kontak dadakan buat tau dimana tempat janjian sama temen-temen pindah atau apalah. Tapi lepas dari itu, saya mau nyoba kembali ke beberapa dekade kebelakang, haha. Dan itu berarti nerjemah manual (tulis tangan), nulis di buku tulis, baca buku, dan lain-lain.


Yah, sebenernya ide ini muncul bukan tanpa pengaruh info yang saya dapet secara digital juga sih; ironisnya, info ini saya dapet dari adbuster, ketika saya lagi browsing iseng-iseng sambil begadang tadi malem. Ada beberapa info yang menarik perhatian saya; video tentang generasi di Korea Selatan, area yang disebut sebagai paling terkoneksi/wired di dunia, tentang anak-anak badan yang bertumpuk lemak karena jarang gerak, kebanyakan di depan komputer. Tentang saling nutup dirinya orang-orang dari lingkungan sekitarnya, dan semua orang sibuk dengan perangkat elektroniknya masing-masing. Oke, disini emang belom separah di video ini. Saya gak overweight, masih ketemuan langsung sama temen-temen saya,... Tapi saya gak bisa nyangkal, kalo kita semua emang sampe level tertentu gak bisa lepas dari perangkat elektronik kita.

Setelah itu, saya janjian sama beberapa temen saya buat nyoba eksperimen kecil ini sampe beberapa lama kedepan. Mungkin perbedaan yang saya rasain itu nanti bakal saya tulis disini juga, hahaha... Sip, buat yang pengen liat link yang saya baca itu, bisa klik di sini ya.

Minggu, 08 November 2009

Psyche I: Karena kita semua terlanjur gila.


My little empire,.

I'm sick of being sick
I'm tired of being tired
I'm bored of being bored
I'm happy being sad
Happy being sad
-- Manic Street Preachers

We need and we will always need
Another invented disease
We need and we are taught to need
Another invented disease
-- (also) Manic Street Preachers


Semenjak menurut saya kebanyakan orang yang pernah saya jumpai, kenal, atau juga berhubungan secara sosial itu absurd, saya mulai nyari-nyari penjelasan tentang apa emang cuma saya yang mikir gitu, atau emang secara ‘ilmiah’ (atau dengan kata lain menurut teori psikologi yang udah ngelewatin pengujian-pengujian—yang walaupun gitu belom secara pasti ngebuktiin kalo teori-teori itu bener adanya, dan bisa selalu kepake di generasi apapun karena psikologi manusia itu selalu berubah ngikutin perkembangan peradaban) juga gitu. Ternyata, setelah baca-baca beberapa (ya, emang belum sangat banyak sih) artikel dari DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) , misalnya, atau wikipedia, atau apapun yang bisa saya temuin di google, link dari temen atau buku; nah, ternyata emang secara ‘ilmiah’ pun; kita semua emang gila.
Kelakuan-kelakuan sehari-hari yang diamini dalam masyarakat modern hari ini, bisa ditemuin dalam gejala-gejala mental disorder dalam psikologi modern. Dan itu yang bikin saya gak ngerti kenapa kita perlu psikiater buat nyembuhin orang-orang yang disebut ‘sakit jiwa’...karena kita semua ternyata ngalamin ‘mental disorder’---hei, bahkan para psikiater itu. Dan apa jadinya kalo orang-orang gila sok sok berusaha nyembuhin orang gila laen? Kegilaan yang bakal tanpa henti; menurut saya itu jawabannya. Terus apa masalahnya kalo semua orang itu gila? Ya gak apa apa, justru buat saya itu intinya. Karena kita semua udah gila, jadi kegilaan itu normal, dan bahkan udah gak perlu diklasifikasiin lagi sebagai ‘abnormal’ sama para psikiater sok tau itu.


Oke supaya jelas mendingan saya mulai kasi beberapa contoh "pola tingkah laku patologis" modern.
Kebanyakan anak-anak zaman sekarang (yang saya bisa temui, kenal atau temenan, lagi-lagi), punya ketertarikan yang sangat besar sama diri mereka sendiri, dan entah gimana caranya, juga ngerasa kalo masalah-masalah pribadi mereka sangat unik dan perlu diketahui sama banyak orang—atau minimal temen-temennya. Menyerupai grandiosity; orang-orang yang diklasifikasikan sebagai mania ini ngerasa kalau kediriannya sangatlah spesial dan terdapat misi-misi raksasa yang harus dipenuhi dalam hidupnya; seringkali, mereka didapati nampak seperti yang selalu euforia: mania berbicara dengan kecepatan luar biasa, gak terlalu butuh tidur karena terlalu banyak hal yang ingin dipikirkan-dilakukan (jadi perubahan waktu jadi gak kelacak), dan memiliki pemikiran yang terus salip menyalip di dalam kepalanya. Mungkin sulit untuk terus mengikuti apa yang ia pikirkan. Hal ini, umumnya meningkatkan stress pada hubungan-hubungan sosial mereka; yah, mungkin karena kedirian individu yang mania akan menjadi lumayan melelahkan :) karakteristik umum individu mania adalah grandiosioty (perasaan "kebesaran" diri), obsesif, dan tidak akan menerima bahwa ada sesuatu yang absurd dengan dirinya. Gejala mania dalam tipe ringan disebut hipomania; dan ketika individu mania yang seringkali euforia ini juga memiliki kecenderungan depresif, akan terjadi episode campur (mixed episode), dimana mania yang seringkali euforia juga mengalami disforia yang manic. Individu mania, mungkin akan nampak seperti individu yang sangat sangat impulsif. Haha, tapi gataulah. Dengan kecepatan input informasi yang masuk di jaman ini, kebanyakan anak muda mungkin gini deh. Some kind of generation-thing? yah, jelas gak semua orang gitu, tapi maksud saya ini efek yang logis dari desakan pengaruh dari berbagai ide, referensi dan teori yang memasuki kepala-kepala kita... "damn, so many things to do and how can i ever do enough to living this life to its maximum???".
Mania; emang secara permukaan nampak menyerupai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) alias ngalamin kesulitan berfokus terhadap sesuatu, tapi sekaligus cenderung hiperaktif. ah, tapi ini gak terlalu masalah sih kayanya kalo orang-orang sekitarnya gak keganggu (atau individunya jadi makin stress atau saking seringnya mixed episode sampe masuk tahap bipolar, dimana pergantian euforia-disforia nya bakal berlangsung dengan sangat cepat sampe tendensi buat jadi skizofrenik mulai menguat).

Contoh yang sama-sama seringnya ditemui juga; adalah obsesi dan ketertarikan personal/emosional yang luar biasa sama objek-objek tertentu. Lebih spesifik lagi, ketertarikan pada objek-objek tertentu ini juga ngehasilin gejolak emosional tertentu buat si individu...nah, yang ini dikenal sebagai fetish. Fetish, bukan cuma ada secara seksual, tapi juga fetish komoditi. Kalau fetish seksual berfokus sama hal-hal tertentu yang ngehasilin rangsangan seksual yang besar; fetish komoditas gak harus ngehasilin rangsangan seksual, tapi sekedar ‘hubungan personal’ sama perbendaan—komoditi. Komoditi, tentu saja, adalah hal yang bisa kita beli. Dan fetish komoditi inilah yang saya liat dihasilin sama teror sosial, lingkungan, oh, dan juga iklan (tanpa nekenin pada sekedar iklan—karena pengaruh media tentu saja gak sesederhana pengaruh iklan doang); yang ngebentuk imajinasi imajinasi tertentu pada komoditi itu. Dan dari imajinasi kepentingan tersebut, munculnya hubungan personal kepada komoditi. Ini adalah semacam mental disorder (hei bukan klasifikasi dari saya loh, tapi kata buku DSM hasil tulisan American Psychiatric Association , asosiasi psikolog modern itu) yang ngebuat pasar dan produksi komoditi terus berjalan. Ini yang sering disebut sama majalah-majalah yang girly sebagai; “shopping itu ngeredain stress loh”. Hahah, makanya mungkin para penulis yang keki sama kelakuan konsumeris bakal semakin sering menghela nafas, soalnya, hampir semua orang sekarang butuh ini; dan sepanjang pemenuh hasrat ini ngebutuhin pertukaran nilai tukar/uang, kalian bisa terus memaki sampai keabisan kata…hei tapi sistem ini bakal terus berjalan dengan keberadaan fetish ini. :P
Sedikit mulai ngedapetin gambaran?
Terkadang, dari contoh-contoh yang diatas, saking umum dan diterimanya hal-hal itu dalam masyarakat; tentu itu dianggap sebagai hal yang natural dan biasaa.

Oh sekarang memasuki contoh dari dunia yang sedikit lebih gelap dan personal; semakin familiar rasanya saya dengan kata depresi. Mmm…untuk jelasnya, depresi itu bukan sekedar stress; ia adalah stress, angst, kebencian dan kesedihan yang bertumpuk hingga asal mulanya udah semakin gak kelacak. Disebut oleh DSM sebagai major depressive disorder; orang-orang yang depresi kesulitan untuk ngalamin kesenangan dalam hidup kesehariannya. Biasanya, hari-harinya didominasi oleh mood yang butut. Angst, kemarahan, sakit hati, kebencian, dan segala emosi terhadap faktor-faktor eksternal itu kemudian menjadi bumerang buat dirinya sendiri. Orang-orang yang depresi pada umumnya kemudian ngarahin segala emosi ‘negatif’ itu ke dirinya sendiri, selain ke hal-hal diluar dirinya. Kemudian ia bakal ngerasa dirinya gak berarti, perasaan bersalah atau penyesalan yang sebenernya mungkin gak perlu, ngebenci dirinya sendiri dan idupnya, dan ngerasa ini nyaris gak bisa dihentiin,..dan makanya kebanyakan orang dalam fase depresif yang kemudian mulai bergerak kearah tendensi-tendensi bunuh diri. Dalam fase kemuraman ini, sebagian orang yang depresif bakal nutup hubungannya dengan lingkungan sosial dia yang biasa dia masuki. Kesulitan tidur atau justru kebanyakan tidur, juga adalah efek yang biasa. Dunia dan kehidupan bakal nampak sangat gak relevan buat terus dilanjutin. Terkadang, orang-orang yang depresif juga ngalamin ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder). Orang-orang yang depresif seringkali disamain sama sekedar moody; atau berganti-ganti mood dengan cepat, karena emang orang depresif ternyata lumayan moody; tapi ya bukan sekedar itu doang sih.
Masih pengen ngebahas depresi, salah satu hasil dari tahap perkembangan dari major depressive disorder tadi, adalah sindrom psychotic major depression. “Tahap selanjutnya” ini bisa dialamin kalo individu yang ngalamin depresi tadi gak berhasil keluar dari lubang hitam kemuramannya, tapi juga gak jadi-jadi bunuh diri. Kebanyakan individu yang ngalamin PMD, ngerasain delusi rasa bersalah dan paranoid; atau ngerasa bahwa ada sesuatu yang salah di tubuhnya; ketika bahkan tubuhnya berfungsi secara normal. Gejala-gejala umum yang lainnya, individu dengan PMD biasanya ngerasain kesulitan tidur, mudah teragitasi, atau ngalamin kesulitan mengingat (‘gangguan dalam hal kognisi dan memori’). Tapi tentunya gejala ini gak ngerangkum semua gejala psikosis, karena masih banyak cabang dari klasifikasi psikosis yang lainnya misalnya skizofrenia, atau skizoaktif. Dan PMD ini gak nampak terlalu mencolok untuk pihak eksternal; karena orang-orang yang masuk kedalam klasifikasi PMD biasanya masih dapat berfungsi secara harian seperti biasa.

Masih nambah dikit soal PMD ya, saya gemes soalnya pengen nambahin tes sederhana untuk ngediagnosa psikosis depresif (kata padanan ini sangat besar kemungkinannya gak selaras dengan kata padanan yang dipake dalam buku psikologi bahasa indonesia, soalnya bahan-bahannya emang gak diambil dari situ). Daftar yang saya masukin dibawah adalah murni terjemahan dari DSM:

Berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) / Manual Statistik dan Diagnosa dari Kekacauan Mental, sebuah manual yang digunakan secara luas untuk mendiagnosa mental disorder/kekacauan mental, pasien-pasien yang menunjukkan setidaknya 6 dari gejala-gejala berikut ini dalam periode dua minggu atau lebih dapat di diagnosa sebagai PMD (Psychotic Major Depression). Untuk dapat diangap mengalami diagnosa PMD, pasien setidaknya mengalami no (1) atau (2), dan (10), bersama dengan tiga atau empat gejala lainnya (hingga total kurang lebih enam). Gejala-gejala ini dapat terjadi secara berbeda-beda tergantung bagaimana yang dirasakan/dilakukan pasien pada waktu sebelumnya.

1. mood depresif pada kebanyakan hari atau setiap hari.
2. kehilangan ketertarikan atau kesenangan dalam setiap hal, atau nyaris setiap hal yang dilakukan pada mayoritas hari, atau setiap hari.
3. Kehilangan/penambahan berat badan yang signifikan, Atau mengurangnya/meningkatnya selera makan nyaris setiap hari.
4. insomnia Atau hipersomnia (tidur secara berlebihan) nyaris setiap hari
5. agitasi psikomotorik (bergerak lebih cepat) Atau retardasi (retardation, bergerak lebih lambat) nyaris setiap hari, cukup mencolok hingga disadari oleh orang2 sekitarnya
6. lemas Atau kehilangan energi nyaris setiap harinya
7. perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah (yang dapat saja delusional) yang berlebihan, nyaris setiap harinya (bukan sekedar introspeksi diri atau perasaan bersalah akibat merasa sakit)
8. kehilangan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, Atau, kehilangan kemampuan untuk memutuskan, nyaris setiap hari
9. pikiran yang berulang2 mengenai kematian (bukan dalam arti ketakutan akan mati), berulang2 memiliki ide-ide bunuh diri tanpa rencana spesifik, atau usaha-usaha bunuh diti, atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri
10. delusi atau halusinasi

Sedikit Familiar? Atau mungkin pernah punya temen/relasi yang gitu?
Mungkin iya, atau belom. :D yah contoh yang saya taro emang cuma tiga, soalnya tiga juga asa udah kepanjangan hehe..tapi sementara udah cukup lah ya buat ngegambarin kenapa menurut saya mental disorder adalah hal yang sangat umum buat ditemui di zaman sekarang. Saya mesti akui saya emang mulai tertarik baca-baca soal ginian, semenjak saya ngerasain beberapa hal dari yang dari awal tulisan tadi udah saya tulisin.
Karena seperti yang tadi saya bilang di awal; karena kita semua udah terlanjur gila, jadi udah gak ada masalah apakah kita gila atau gak—itu cuma jadi masalah ketika kita nganggep dampak-dampaknya punya efek yang kita gak pengenin dalem hidup kita. Buat saya sendiri, beberapa dari simptom yang saya punya cukup ngeganggu hidup saya sendiri, dan saya pengen minimalisir hal itu.
Dan setelah itu, tentunya saya gak cuman ngambil referensi murni dari DSM dan langsung percaya gitu aja...nggak, soalnya saya secara pribadi percaya, kalo dalam perkembangan peradaban ini, secara psikologis dan biologis, manusia pelan-pelan berevolusi (atau bermutasi? Karena secara genetik kita juga udah diacak-acak sama berbagai substansi kimia yang ada dalam pangan kita turun temurun), dan perkembangan dalam ‘inovasi-inovasi’ biokimia juga menurut saya sangat berpengaruh dalam perubahan ini.
Sementara, DSM dibuat oleh para psikolog dan psikiater yang gak masukin hal-hal tersebut sebagai bahan pertimbangan diagnosa, jadi dengan basis yang beda dengan yang saya percaya, tentunya saya gak bakal ngandelin para psikolog modern buat ngasi tau saya apa yang salah dengan kecenderungan mental kita hari ini. Tapi seenggaknya, referensi teoritis dari para ilmuwan itu ngebantu saya untuk ngeklasifikasiin gejala (meskipun nyaris dari semua teori itu emang gak punya kesimpulan yang meyakinkan tentang penyebab, tapi seenggaknya mereka udah ngeluangin banyak waktu untuk ngelacak gejala dan akibat).

Hal-hal yang saya jadiin contoh diatas, adalah hal-hal yang saya sempet amati di diri saya dan di lingkungan sosial saya. Emang lebih detail lagi kesimpulan yang saya dapet buat diri saya sendiri; karena emang sumbernya lebih banyak dan historis (diary dari bertahun-tahun lalu sampe sekarang, misalnya), dan tentunya saya adalah bahan yang lebih mudah untuk saya amati. Karena saya ingat hal-hal yang terjadi dalam idup saya, dan perkembangan emosional saya sepanjang itu. Sementara, orang lain adalah pihak eksternal; saya cuma bisa belajar darinya sepanjang mereka mau cerita sama saya. Dan kita tau kalo komunikasi ke pihak eksternal itu ke reduksi; saya gak akan dapet hasil seoptimal nganalisa diri sendiri.
Karena hal ini juga sebenernya buat saya psikiater itu cukup gak relevan keberadaannya; karena mereka pasti gak akan berfungsi secara efektif! Kecuali kalo individu yang ngerasa keganggu sama sindrom-sindromnya itu gak ngerasa mampu/pengen buat ngepelajarin dirinya sendiri, dan emang butuh bantuan eksternal. Tapi sehubungan temen yang lumayan tau soal psikologi juga bisa ngebantu untuk ngenalin dan ngatasin sindrom-sindrom mental disorder; tentunya ngebayar sangat mahal untuk psikiater buat saya adalah hal yang tolol.
Dan toh biasanya para psikiater itu kemudian cuma ngasi resep-resep obat biokimia; karena dalam teori-teori mereka, hasil analisa dari sisi biologi juga nunjukin kalo ada perbedaan-perbedaan hormon dan/atau genetik pada orang-orang yang ngalamin mental disorder. Misalnya; di orang-orang yang depresif, ditemuin bahwa mereka memiliki level yang rendah dari neurotransmitter seperti serotonin, norepinephrine dan dopamine। Sesuai dengan teori “penyembuhan depresi membutuhkan peningkatan monoamine” tersebut, maka banyak anti-depressan yang diberikan oleh para psikiater langsung meningkatkan salah satu atau beberapa dari neurotransmitter tersebut. Diasumsikan, ketika serotonin meningkat dan menyebabkan norepinephrine juga meningkat, depresi dapat terbantu.

"Norepinephrine dapat terhubung kepada kesiagaan dan energi, seperti halnya juga kecemasan, atensi, dan ketertarikan dalam hidup; [kekurangan] serotonin kepada kecemasan, obsesi, dorongan; dan dopamine kepada atensi, motivasi, kesenangan, dan juga kepada ketertarikan kepada hidup”
- Journal of Clinical Psychiatry

Terdengar logis, terdengar nyaris dapat diandalkan.
Kenyataan yang saya liat dari penggunaan-penggunaan andep/anti-depressan oleh teman-teman di lingkungan saya; meskipun anti-depressan memang ngehasilin mood yang lebih tenang dan santai, ia gak akan ngebantu untuk ngedapetin mood yang ceria atau energik. Dan kebanyakan dari pengonsumsi andep; merasakan gangguan hormonal ketika sedang tidak mengonsumsinya. Dengan kata lain, saya tetep gak bisa percaya sama intervensi orang buat gangguin struktur biokimia saya dengan bahan-bahan yang secara psikologis berpengaruh kuat. Dari sudut pandang saya, lagi-lagi ketika “penyembuhan” itu udah lebih berorientasi sangat kuat terhadap bisnis, saya bakal kesulitan percaya sama mereka, karena bukannya ngambil fokus di penyembuhan individu yang ngonsumsi, mereka akan lebih berfokus kepada profit yang akan dihasilkan dari situ. Dan obat-obatan itu gak lain adalah komoditi dari bisnis besar industri medis. Kita semua yang udah pada gila ini, adalah pasarnya.

Jadi, meskipun menurut saya adalah hal yang kepake, buat ngepelajarin studi-studi psikologi yang udah dilakuin sama para ilmuwan itu; saya gak akan ngandelin mereka buat ngejelasin penyebabnya, apalagi cara penyembuhannya. Apalagi karena menurut mereka “sembuh” itu kembali ke rutinitas hidup yang diamini sama masyarakat mayoritas dan masuk ke garis “normal” (alias, lagi-lagi, hal yang dianggap ‘normal’ adalah hal yang dilakukan/diamini sama orang mayoritas); dan kalo itu yang disebut “sembuh”---sementara saya nemuin banyak kegilaan dalam “kenormalan” yang mereka amini, gimana saya mau percaya mereka buat “nyembuhin” saya?

Mulai dari kesadaran kalo ternyata saya idup dalam dunia dimana semua orang itu terlanjur gila (entah mereka mau mengakui hal itu atau berusaha keras menyangkalnya); akibat berbagai faktor kompleks yang saling berhubungan...saya jadi punya ketertarikan tertentu untuk nyoba nyari jawaban dari kalimat “kenapa ya bisa sampe gini?”.
Nah, hal ini yang waktu itu, dalam tulisan saya berjudul “Merengkuh Sakit” pengen saya bahas dalem zine saya, :D yah, tapi karena ada hal-hal personal yang kemudian terjadi, gak jadi jadi juga saya mulai mu ngebahas hal ini. Mungkin terlalu panjang kalo saya nyoba bahas satu-satu tentang simptom-simptom yang saya penasaran di tulisan ini; jadi saya bakal nyoba nyambungin dengan bahas simptom yang lebih spesifik/fokus dalam tulisan berikutnya. Ah, kalian yang udah pernah baca uncivilized –terutama- bab Trauma Domestikasi mungkin familiar dengan apa yang saya omongin ini; bahasan yang nyoba “ngelanjutin” tulisan primitivis yang nulis tentang Trauma Domestikasi. Tapi menurut saya sih, tulisan itu kurang lengkap; karena dia gak sempet ngebahas sudut pandang-sudut pandang yang lebih melelahkan yang juga terlibat, semacam efek-efek psikologis dari bentukan “masyarakat penonton” (society of spectacle), generasi dengan arus informasi super cepat, efek psikologis dari tereduksinya makna hidup, dan keberadaan generator-generator identitas instan. Nah, justru karena ribetnya semua itu, kayanya pencarian jawaban dari pertanyaan sederhana tadi bakal jadi perjalanan yang sangat panjang; mungkin bahkan sampe mati saya belom bakal nemu kesimpulan yang sepenuhnya tepat dari pertanyaan “kenapa” tadi itu.
Yah, tapi sampe mati juga Freud belom nemuin konsepsi psikologis yang sempurna, jadi nampaknya penemuan jawaban yang sepenuhnya tepat itu emang gak akan kesampaian selama saya idup; jadi ya gak masalah। Tapi yang jelas, ini ngebuat semua hal yang pengen saya pelajarin secara otomatis jadi relevan dan urgent untuk saya mengerti; sekedar supaya saya bisa pelan-pelan ngebebasin diri dari jerat-jerat patologi yang udah dirajut dari sepuluh ribu tahun lalu ini aja. :) ah, kalo ada yang pengen bantuin saya nambahin atau ngritik, "ngoreksi",... saya tertarik banget looh... hehe.

Kamis, 22 Oktober 2009

Mengapa aku tidak tertarik kepada Islam dan Bisnis.


Why did you give me

So much desire?
When there is nowhere I can go
To offload this desire
And why did you give me
So much love
In a loveless world..
(Morissey – I have forgiven Jesus)


( Mecca, Januari 2009 )
Pada langit cerah diatasku, burung-burung hitam mengepakkan sayapnya dalam gerombolan. Masih menengadah, kupikir, aku tidak tahu burung-burung apa itu. Entah bagian mana dari kota yang konon sakral ini yang mereka huni. Apakah dibalik mesin-mesin kontruksi yang besar, tinggi menjulang, yang berada di balik mesjid besar ini; atau di atap hotel-hotel bintang lima dengan biaya menginap yang sangat-sangat tinggi yang berada di belakang mesin-mesin itu? Atau mungkin mereka sekedar membuat sarang diantara gundukan tanah yang membentuk bukit; gundukan tanah hasil pengerukan rumah-rumah yang digusur untuk membangun pusat perbelanjaan megah dan hotel-hotel mewah yang mengelilingi mesjid besar ini. Aku mengerutkan kening. Gundukan tanah itu tidak rapih. Ia masih berbentuk tumpukan rumah hancur, dan di sela-selanya masih berbentuk rumah yang rusak; haha, dan aku bahkan bisa melihat masih ada orang-orang yang hidup di dalam rumah rusak itu.
Sementara itu, di hadapanku, terdapat ratus-ribu orang berbaju hitam atau putih. Mereka sedang bersujud menghadap sebuah bangunan berbentuk kotak, yang diselubungi kain berwarna hitam.

Aku sendiri sedang duduk di tangga, bersembunyi dari ayahku yang sedang ikut bersujud massal. Beruntung untukku, jarak dari jamaah laki-laki dan perempuan cukup jauh, hingga aku bisa bersembunyi dari ayahku, melamun di tangga, sementara ia dan ratusan ribu ini sedang melakukan ritual mereka. Ia tentu mengira aku juga ikut bergabung dalam ritual ini.
Aku sama sekali tidak tertarik untuk mendatangi tempat ini. Bulan ini, aku berharap hanya harus mengunjungi ayahku untuk berbasa-basi dengan lingkungan kerja barunya. Ia baru saja dipindahkan ke Arab Saudi, sebagai promosi dari pekerjaannya. Dari sekian pilhan negara yang tersedia bagi pekerjaannya, entah kenapa ia harus tinggal selama empat tahun kedepan, di negara yang sama sekali tidak menarik bagiku. Karena ia selalu menginginkan efisiensi waktu dan uang, maka tentu saja ia tidak puas bila kami tidak sekalian mengunjungi kota ini.
Aku banyak mendengarkan dongeng mengenai betapa sakralnya kota ini.
Mecca.
Tempat dimana orang berdosa akan celaka. Tempat dimana hanya muslim yang dapat memasukinya. Kafir akan disesatkan, dan akan mengalami petaka. Konon, kota ini adalah tempat orang-orang melakukan ibadah mereka dengan khusyuk, tulus, penuh pengorbanan dan niat suci.

Ha.
Pada langkah pertama yang kupijakkan di kota ini, aku langsung menyadari kekonyolanku pada masa kecil. Aku adalah seorang kafir, yang sangat senang melakukan hal-hal yang mereka anggap dosa, dan aku baik-baik saja. Aku sama sekali tidak kesulitan menemukan jalan pulang ke hotel dimana kami menginap. Dari jejeran mall-mall besar, untuk menemukan hotel itu, aku hanya perlu melewati gerombolan pengunjung yang tidur/menginap di lantai halaman mesjid besar ini karena mereka tidak mampu menginap di hotel-hotel besar yang ada disana. Aku tidak tersasar, dan tidak ada kekuatan ajaib yang mencelakaiku.
Ini adalah kota suci yang aneh. Sewaktu kecil, aku tidak akan pernah menyangka bahwa bukan seberapa-rajinkah-kamu-beribadah lah yang akan menyelamatkanmu disini. Ternyata, seperti hal nya tempat-tempat pariwisata dengan jumlah pengunjung tinggi setiap harinya, yang kamu butuhkan hanya uang, uang yang sangat banyak, dan kamu akan selamat. Hei, dan konon bila kau sering datang, kau bahkan akan masuk surga. Konon, setiap kamu shalat di mesjid ini, valhalla yang kau dapatkan adalah beratus kali lipat dari mereka yang shalat di mesjid di bagian dunia lain yang tidak sakral. Karena itu, hasilkan uang semakin banyak, sering-seringlah shalat di titik-titik dimana valhalla yang dihasilkan sangat besar, dan hidupmu akan selamat—dunia dan akhirat.


Aku menatap menerawang ke langit.
Lampu neon logotype Meridien dan Hilton menyala terang disamping bulan sabit yang cantik.
Mereka yang tengah ditangkapi karena tidak menginginkan lingkungan mereka hidup dirusak oleh Semen Gresik di Sukolilo, atau di Medan sana; entah apakah mereka akan pernah mampu membeli tiket ke surga ini. Sementara keseharian mereka menyerupai neraka.

Islam, yang kupelajari dari semua muslim yang pernah kutemui dalam hidupku sejauh ini, dijalankan dengan hitungan dagang. Serupa bisnis. Sepanjang kamu pintar-pintar menjauhi yang dilarang, dan terus melakukan hal yang disuruh agar kamu dapat menabung valhalla, kamu akan masuk surga.
Sama sekali tidak ada masalah apabila setiap hal yang menguntungkanmu pada tiap harinya, merupakan kerugian bagi pihak yang lain. Meskipun kau bekerja untuk mengembangkan perusahaan yang menghancurkan kehidupan banyak orang. Meskipun kau tidak pernah memperdulikan apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Meskipun untuk gaji besar dalam pekerjaanmu, berarti banyak orang tidak memiliki uang untuk membeli pangan. Meskipun untuk hotel megah dimana kamu menginap, dan pusat-pusat perbelanjaan dimana kamu memuaskan hasratmu mengonsumsi, pasti ada orang-orang yang harus diusir dari rumahnya. Meskipun kau membiarkan sumber-sumber berita yang membentuk opinimu dipenuhi bualan, omong kosong yang hanya menguntungkan para pemiliknya: para penguasa dan saudagar besar. Meskipun setiap harinya, kamu berpura-pura tidak sedang hidup dalam posisi yang membiarkan sistem ekonomi yang menagih darah dan nyawa setiap detiknya ini terus berlangsung. Pintar-pintar menabung valhalla, menjalani yang diwajibkan, dan menjauhi dosa. Cukup itu saja.

Di depan Ka’bah itu aku meringkuk dan memejamkan mata.
Aku tidak mau spiritualitas seperti ini. Aku tidak butuh kota suci yang dipenuhi oleh saudagar serakah yang sibuk meraup untung dari gerombolan mereka yang haus valhalla.

Aku membenci negara ini; Arab Saudi. Negara yang menjadi kiblat orang-orang religius di tempat aku hidup, Nusantara. Kiblat semacam ini. Tempat dimana perempuan dilarang melakukan nyaris semua hal diluar rumah tangga mereka. Dan kau bisa menemukan rumah keluarga Saud dimana-mana. Seperti istana, rumah-rumah itu megah, luas, bertembok besar dan berpenjaga. Pada sisi lain kota, para pekerja imigran bergaji rendah berjejalan dalam angkutan umum yang berkendara diatas jalanan yang cantik dan bersih.
Ayahku sering bercerita, bahwa dalam pekerjaannya, ia seringkali shock melihat hal-hal yang dilakukan orang-orang disini. Ia harus ikut mengurusi pengadilan tenaga-tenaga kerja yang disetrika, dipukuli, dibunuh secara sadis (berdasarkan hasil forensik yang dilakukan terhadap mayatnya) oleh kepala keluarga setempat, atau bahkan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Bagaimana seorang yang sangat kaya tetap tidak mau menggaji seseorang yang telah bekerja kepadanya selama puluhan tahun. Dan bagaimana passport orang-orang malang ini ditahan oleh majikannya, hingga mereka tidak dapat/sulit kabur. Ayahku juga sering bercerita tentang pekerjaannya yang dipersulit oleh pemerintah Arab Saudi yang sangat melindungi warganya, sehingga seringkali psikopat-psikopat ini lepas tanpa mendapat hukuman.

Dengan kiblat semacam itu, seharusnya aku tidak lagi heran mengapa di Nusantara tempatku tinggal, mereka memelihara gerombolan preman psikopat semacam FPI dan FBR. Atau mendukung partai yang mendanai gerombolan tukang pukul yang menamakan dirinya pembela kebenaran tersebut. Para pembela kebenaran yang senang memukuli dan mengacak-acak rumah seseorang yang membuka warung makannya pada saat bulan puasa, karena dianggap tidak menghargai bulan (yang lagi-lagi) suci tersebut. Meskipun warung tersebut kecil, orang itu miskin, dan entah makan apa yang mampu dibeli orang itu saat magrib bila ia tidak berjualan hari itu.


####


Mengapa aku tidak tertarik pada Islam (setidaknya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingku), bukan sekedar karena itu. Dua minggu yang kuhabiskan di negara itu hanya menguatkan ketidaktertarikanku terhadapnya. Sebagian karena ibuku yang memaksaku untuk berpura-pura menjadi orang yang religius selama kurang lebih 18 tahun, dengan ancaman usiran dari rumah, berhentinya sokongan keuangan, dan tidak lagi dianggapnya aku sebagai anak apabila paksaan itu kutolak. Tahun-tahun yang kulewati di SD, SMP, dan SMA cukup untuk membuatku muak dengan kekangan mutlak yang ia paksakan. Beruntung untukku, sekitar dua tahun lalu aku menyudahi semua itu. Namun seperti layaknya orang yang muak dengan ruang tertutup setelah dipenjara selama 18 tahun, aku sungguh mati rasa dengan hal-hal yang berbau religius. Sebagian lagi, karena spiritualitas yang dijalani oleh teman-teman dan keluargaku yang muslim, yang tidak kuanggap sebagai spiritualitas yang kuinginkan.
Tapi aku tidak mengatakan bahwa aku tidak tertarik dengan semua muslim. Aku hanya ingin menjauh dari mereka yang memperlakukan spiritualitas mereka seperti mereka melakukan manajemen bisnis dan keuangan harian mereka.

Tadi malam, aku sempat menyinggung hal ini ketika mengobrol dengan Def, kekasih yang tinggal bersamaku. Ia sedang bercerita bahwa saat masih kecil, ia sempat mengalami insomnia selama berbulan-bulan. Karena itu, setiap tengah malam ia akan terbangun di ranjangnya dengan mata tertutup, gelisah dan berusaha untuk tidur karena tubuhnya lelah, namun tidak bisa. Ia berkata, seringkali ia terharu ketika pada tengah malam itu, ia mendengar ayahnya yang sedang berdoa dalam shalat tahajudnya. Terutama ketika ayahnya mendoakan harapan-harapan yang begitu manis. Hal-hal yang tidak pernah dikatakan oleh sang ayah dengan melankolis dan tulus seperti itu kepada Def sendiri. Kami membicarakan Doa. Hingga kami tiba pada kesimpulan, bahwa doa yang tulus tetaplah merupakan hal yang manis. Terutama ketika itu ditujukan bagi orang lain. Ia adalah harapan-harapan agar hal-hal baik terjadi, yang di afirmasikan secara fokus/khusyuk kepada sebuah mediasi tak kasat mata yang ada di benak. Menurut kami yang terpenting adalah, harapan-harapan itu tersampaikan, justru kepada diri sendiri. Untuk terus mengingat, hingga tiba harapan dan ingatan itu pada bawah sadar. Hingga kadang, keputusan-keputusan kita setiap harinya, dipengaruhi oleh harapan yang telah terpendam di bawah sadar tersebut.
Shalat yang tidak mengingat pahala dan kewajiban pun mengingatkan kami terhadap meditasi. Seperti halnya meditasi-meditasi pada beberapa agama lain, misalnya Buddha, ia dilakukan dalam posisi-posisi yang mendukung proses meditasi tersebut. Berdiri, rukuk dan sujud pada Islam yang meregangkan tubuh. Posisi sila yang tidak menghambat peredaran darah pada Buddha. Mengeluarkan bunyi-bunyian yang mendukung proses pemusatan pikiran kepada hal-hal diluar keseharian dunia. Doa-doa pada awal shalat. Suara ambiens yang harus dikeluarkan pada meditasi Buddha. Kesimpulan kami, Shalat adalah meditasi. Apabila seseorang dapat memusatkan pikirannya pada hal-hal diluar dirinya tersebut (masing-masing agama memiliki medium), misalnya tuhan, atau kekosongan, atau rasa; ia kemungkinan dapat mencapai titik ekstase, orgasme spiritual dimana hanya rasa tanpa kata yang tersisa darinya.
Dengan kata lain, dari sudut pandang itu, aku sama sekali tidak bermasalah dengan agama apapun. Menurutku proses spiritualitas seseorang baik untuk kesehariannya sendiri. Dan berarti agama bagiku hanya merupakan satu dari begitu banyak pilihan untuk menjalani proses spiritualitas. Ada yang memilih dengan mabuk, dengan meditasi stoik, atau meditasi kebisingan, meditasi keheningan, dan ada yang memilih meditasi dengan yoga atau shalat. Itu tinggal perkara selera. Kami juga membicarakan mengenai nabi.
Apakah bedanya nabi dan filsuf? Nietzsche dan Muhammad? Bila kamu menjawab bahwa perbedaannya terletak pada mukjizat dan wahyu; maka jawaban dari percakapan kami kemarin adalah perbedaan dari Nabi dan Filsuf terletak pada sejauh apa orang-orang di sekeliling mereka mempercayai omongannya. Apalah bedanya Muhammad yang pergi menyendiri untuk mendapatkan wahyu, dengan Nietzsche yang menyendiri untuk mendapatkan ide. Nabi dan Filsuf adalah para pemikir yang memiliki pemikiran mengenai “bagaimana sebenarnya kita harus memandang hidup”; dan itulah isi dari kitab mereka. Cara untuk memandang dan menjalani hidup menurut mereka; dalam Qur’an, dalam Thus Spoke Zarathustra, dalam Injil. Untukku, Agama adalah filsafat yang dipenuhi dengan kisah mukjizat dan keajaiban.

Yang aku benci adalah cara praktek agama yang mengamini kekuasaan kapital, serta memaksakan kebenaran yang mereka percayai kepada orang lain, dengan cara apapun. Pada titik itu, itu bukanlah lagi spiritualitas personal yang berada diluar pemikiran keseharian. Ia sangatlah banal, memuakkan, dan hanya mengamini pembentukan neraka bagi orang lain; demi membangun kondisi yang menyenangkan bagi mereka. Agama yang se-egois itu untukku adalah hal yang munafik, basa basi dan pengecut. Tidak ada sama sekali hal yang menarik dari melakukan sesuatu hanya karena kamu disuruh melakukannya, karena kamu menghindari hukuman bila tidak melakukannya, dan mengharapkan imbalan karenanya.
Agama seperti itu, hanya berpura-pura mencintai cinta dan kebebasan.
Karena yang mereka lakukan hanyalah menghidupi kebohongan dan pembenaran, agar mereka tetap dapat melakukan hal-hal memuakkan yang mereka lakukan dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Tidak ada cinta di dalamnya.
Dan itulah mengapa aku membenci agama semacam itu, dan mengapa aku muak kepada bisnis perdagangan nyawa dalam sistem ekonomi kapitalisme yang terus mereka elu-elukan.

Agama seperti itulah yang kukira disebut Marx sebagai candu yang hanya berfungsi sebagai pengontrol agar mereka yang tertindas tidak mengamuk, dan agar mereka yang serakah dan mengambil keuntungan dari penindasan dapat merasa lebih baik dan 'suci'.


Selasa, 20 Oktober 2009

Pagi pertama setelah sekian lama.


Carpe nocto.


Diatas tulisan itu, terdapat gambar mata horus; lambang dewa bulan pada mitos Mesir kuno. Dua hal itu adalah tato pertamaku, yang keinginan untuk membuatnya datang secara impulsif. Pada awal Mei tahun 2008 lalu, aku meminta seorang teman yang baru saja kukenal pada tanggal satu, untuk merajahkannya padaku. Saat itu kondisi perasaanku sedang kacau, dan aku tidak benar-benar memilih gambarnya. Waktu itu, mirip dengan banyak waktu setelahnya, yang aku inginkan hanya rasa sakit fisik untuk mengalihkan pikiranku.
Kekasihku pada saat itu mengatakan, bagian belakang leher adalah tempat dimana ia merasa sangat sakit untuk meletakkan tato. Maka kupilih tempat itu begitu saja.

Beberapa malam sesudahnya, aku menenggelamkan diri dalam rentetan alkohol bercampur obat-obatan psikiatri bersama kekasihku saat itu, yang memang terbiasa menghabiskan setiap harinya dengan cara seperti itu. Beberapa malam sesudahnya, aku mulai batuk tanpa henti hingga setahun kemudian, ketika aku menyadari bahwa semenjak malam itu aku mulai mengidap bronkhitis. Dan terutama semenjak malam-malam itu, aku nyaris tidak pernah bisa bangun pagi sama sekali. Bila aku menyapa pagi, biasanya itu berarti aku memang belum tidur sama sekali.

Carpe nocto, 'seize the night'; dan aku memang jadi melupa hari dan mata ra - tanpa kusengaja hidupku berjalan sepenuhnya ketika matahari telah terbenam dan hari berwarna kelam.
Pagi ini adalah pagi pertama dimana aku bangun begitu saja, tanpa perasaan masih mengantuk, walaupun sial untukku, karena terbangun dari mimpi yang begitu buruk. Dan walaupun dalam mimpi itu masih ada orang yang kuceritakan nyaris sebulan lalu, ternyata hal-hal yang kutemukan kemarin malam dan pagi ini masih tetap membangunkanku dari tidur panjang yang murung selama sangat banyak bulan.


Aku telah membahas ini beberapa kali dengan kekasih dan temanku hingga terkadang bosan. Kebanyakan dari kita, memang sulit menghadapi kehilangan. Penyesalan, penerimaan rasa sakit, kerelaan untuk melepas memori-memori yang sudah semakin usang.. Untuk kebanyakan dari kita, tetap sulit untuk berhenti melihat kebelakang dan menatap kedepan.


Kemarin, terutama yang membangunkanku dari 'tidur' yang sangat panjang ini adalah sebuah kasus di Kulon Progo; supaya lebih jelas, mungkin lebih baik aku bercerita secara singkat mengenai mereka, dan mengapa mereka berpengaruh dalam merubah kecenderungan mentalku yang muram.

Kulon progo, adalah tempat dimana petani-petani berhasil secara kolektif dan otodidak, menyuburkan lahan yang begitu tanpa harapan dimana mereka hidup. Tanah pesisir pantai, dimana sebelumnya, penanaman tanaman-tanaman pangan pada lahan seperti itu tentunya adalah hal yang mustahil. Namun mereka, setelah berusaha selama puluhan tahun, berhasil mengubah lahan gersang itu menjadi lahan dimana mereka dapat hidup. Aku mengagumi mereka karena semangat hidup yang tinggi, bahkan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Mereka dapat mengubah pasir menjadi lahan subur dimana mereka dapat hidup hanya dengan perangkat sederhana, tanpa modifikasi biologis yang merusak.
Hingga beberapa bulan lalu, Sultan, yang berkuasa di wilayah Jogja, bersama sebuah korporasi baru, menemukan potensi profit dalam kandungan besi yang terdapat dalam pasir pesisir tersebut. Dan tentu saja, korporasi dengan dukungan Sultan tersebut merasa memiliki hak untuk begitu saja menggusur petani-petani gigih itu, dari tempat dimana mereka telah berusaha untuk bertahan hidup selama puluhan tahun.
Dan yang tambah membuatku kagum, masyarakat petani disana begitu kuat. Mereka tidak begitu saja menunduk patuh (atau lebih absurd, menerimanya sebagai 'takdir' yang harus mereka jalani). Mereka menentang, dan mereka berusaha mempertahankan lahannya.

Dari sudut pandang sinis, tentu saja akan muncul kata-kata klise seperti: ya tentu saja, apa yang kamu harapkan dari korporasi dan pemerintah? Para korporat adalah para raja yang sebenarnya pada zaman ini, dan agen-agen pemerintah hanyalah para pendukung mereka, yang memberikan jalan seluas-luasnya untuk perdagangan diatas eksploitasi yang mereka lakukan.

Baiklah, tentu saja itu adalah gambaran logisnya. Namun apa yang akan kita lakukan selain berpendapat dengan kesal?

Pertanyaan itu terutama muncul kemarin siang, ketika datang berita bahwa para petani yang sedang berdemonstrasi itu ditembaki, disemprot gas air mata bertekanan tinggi, dan dilempari bom asap; aku terhenyak. Hal ini bukanlah hal yang baru, tapi mungkin karena aku telah sempat mengagumi mereka sebelumnya, ini memancing rasa gusarku. (Memang salahku sendiri karena tidak terlalu up-date dalam hal kabar kasus-kasus pemerintah & korporasi vs masyarakat di Takalar, Sumatra, Gresik, dan lain-lain.)
Hal ini, memancing pertanyaan untuk sebuah respon.
Karena itu malam kemarin, secara spontan aku pergi ke bandung untuk mengobrol dengan teman-temanku mengenai hal ini. Mengenai kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kita bereaksi terhadap hal-hal menyebalkan seperti ini.

Hal itu, ditambah dengan obrolan-obrolan dalam topik 'kehilangan' yang kulakukan sebelumnya, ternyata masih tetap menjadi tamparan agar aku terbangun.

Sudah cukup rasanya, satu bulan tambahan dari jumlah bulan yang kuhabiskan untuk gusar, merasa sakit dan kesal. Untuk melakukan komunikasi dengan orang yang berbagi banyak kenangan intens denganku itu, sebelum dan sesudah ia membaca tulisanku tentangnya. Aku mengatakan banyak hal dengan maksud memastikan berhentinya komunikasi kita; hal-hal menyebalkan yang sepenuhnya tolol dan asal, dan hal-hal yang sepenuhnya jujur. Mencoba melihat kearah lain. Meskipun ia bersikeras untuk bertemu. Meskipun ia tetap mengusik, bahkan dalam mimpiku malam tadi.


Ada hal-hal yang jauh lebih menarik dan urgent di depan, setidaknya begitu yang aku pikir beberapa hari ini.
Ada proses untuk menerima kehilangan, dan ada kekuatan yang muncul karena pemahaman mengenai rasa sakit. Ada pelajaran-pelajaran yang tidak bisa kita sekedar dapatkan dari sekedar membaca dan menonton; pelajaran-pelajaran yang kita pahami dari pengalaman dan waktu yang berlalu.

Dan seperti yang kukatakan kepada dua kekasihku (ya, sekarang dua sungguh sangat melebihi cukup untukku :) karena kali ini, aku hanya berhubungan dengan mereka yang benar-benar membuatku jatuh cinta) beberapa hari ke belakang. Aku benar-benar ingin memulai hari dengan ceria.
Seperti rasa sakit pada tubuh, pada mental pun aku ingin mengalami kelegaan tertentu yang hanya akan muncul setelah rentetan rasa sakit. Rasa ringan yang bukan karena naif dan tanpa luka; namun justru karena telah dipenuhi luka.


Despair, persona yang tertutup memang mampu memikat seseorang untuk terjebak dalam masa yang begitu lama.
Tapi mungkin ini waktunya berganti 'genre' cerita, haha.
Dan disamping Carpe Nocto akan kutambahkan Carpe Diem (seize the day); meskipun nampaknya yang terakhir tidak perlu kutegaskan dengan menambah tato 'Carpe Diem' di bagian tubuh yang lain. :P


Hidup ini, adalah bagaimana kita menyikapi situasi di sekeliling kita, dan yang terjadi pada kita.
Tanpa kecuali masalah-masalah penindasan legal seperti di Kulon Progo, tanpa kecuali masalah-masalah personal seperti masalah rasa.


...
Ahaha, Pagi pertama setelah sekian lama. :D

Jumat, 25 September 2009

Merengkuh Sakit.


Yang paling aku inginkan saat ini adalah kebisingan absolut…yang menyenangkan dan indah. Yang menyelimuti, mencakupi, dan menutupi segala kesakitan, kegagalan, serta kesia-siaan kata-kata.

Dinding-dinding merah berlumut yang berhiaskan corat-coret galau berwarna hitam, lantai keramik dingin berwarna putih yang tertutup oleh baju dan dokumen yang berserakan, tumpukan gelas kotor yang diletakkan di sudut tangga… sudah nyaris dua tahun, kamarku ini menemaniku saat tinggal bersamamu, sekaligus menjadi sandaranku tiap saat kamu memutuskan untuk pergi dari sini.
Matahari pagi ini terasa menyilaukan. Mungkin karena mataku tengah menyipit dan sembab.
Semua ini; kelelahan akibat menangis, malam tanpa tidur, pertukaran kata yang sedikit namun sangat menyakitkan, berbagai lebam, luka bakar, dan luka gigitan yang masih segar di tubuh kita masing-masing... serta aku yang memohonmu untuk memberikan peluk terakhir… sungguh serupa dengan pagi hari di kamar yang kau sewa di setiabudhi, pada tanggal tiga maret tahun lalu. Namun saat itu, kamu masih lembut dan bersedia memeluk hangat. Saat itu, kita masih seperti dua bocah yang nyaris tak pernah bisa terpisah lama-lama. Dan saat itu, kita tengah membulatkan tekad untuk mengambil pilihan masing-masing, sekaligus menjanjikan konsekuensinya: kita akan berpisah sementara, hingga salah satu dari kita berubah pikiran dan berpindah pilihan.

Sudah satu tahun delapan bulan semenjak hari itu, dan begitu banyak sakit hati yang telah kita pertukarkan. Hubungan kita tereduksi akibat intensitas bertemu yang berkurang drastis, hal-hal baru yang kita masing-masing coba, dan keintiman emosional yang berfluktuasi tanpa pola. Hingga bulan-bulan lalu, aku telah cukup berhasil untuk mencoba menerima, bahwa nyaris tidak ada yang tersisa dari kita. Walaupun memang terkadang, bila murung; aku menyalahkanmu secara subjektif, dan menuduhmu meninggalkanku, meskipun kamu telah begitu akrab dengan tendensi-tendensi psikologisku yang konyol. Kepergianmu, sesungguhnya merupakan salah satu dari sekian penyebab guratan-guratan luka yang sempat kuletakkan di tubuhku, sekaligus pemicu keintimanku dengan inferioritasku yang sebelumnya kukurung sangat rapi.

Bulan-bulan terakhir ketika wujudmu mulai hadir lagi dalam keseharianku, segala simptom ‘despair’ itu telah memupus dari pikiranku. Aku kini mulai dapat menemukan kembali kesenangan dalam eksplorasi-eksplorasi sederhana seperti menggambar, menerjemah, menulis, serta menambah varian dalam eksplorasi seks dengan kekasih-kekasihku.
Entah kenapa pada saat ketika aku mulai mencoba menyegarkan diriku inilah, kamu mendekat. Kita mulai iseng menyempatkan waktu untuk menginap, sekedar bertukar cerita tentang kekasih masing-masing, kegelisahan-kegelisahan harian, dan menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah kita lakukan dengan penuh keyakinan. Terkadang, bila situasi cukup menyenangkan, secara alami kita mengalir kedalam permainan seks yang telah berkembang dan berbeda dari permainan kita dulu. Aku ingat beberapa minggu lalu, aku merebahkan kepala di dadamu yang telanjang, di tengah pelukanmu yang khas, sambil tersenyum mendengarkan cerita lucumu tentang pasangan terakhirmu. Saat itu aku berpikir, betapa aku merindukan kamu dan cerita-ceritamu, suasana kita yang seperti ini. Tawamu yang riang dan celotehmu yang cepat dan ceria, matamu yang berkilau-kilau dan menyipit ketika sedang menceritakan hal yang kamu senangi.

Malam kemarin, kamu datang ke kosanku untuk sekedar bermain dan mengunjungi kami bertiga; aku, seorang mantan pasanganku, dan kekasihku. Kau bahkan sudah cukup akrab dengan mereka, untuk bisa bertukar cerita dengan santai dan bersemangat, seperti yang biasanya kamu lakukan. Kamu juga membawakan makanan masakan ibumu untuk kami makan, karena persediaan makan kami sudah habis. Ketika kekasihku dan mantanku memutuskan untuk pergi ke Bandung, dan aku memilih untuk tinggal di kamar karena masih merasa malas dan lelah… aku sebenarnya sama sekali tidak berharap ada hal spesial apapun yang kita lakukan.
Sesuai ekspektasiku, setelah hanya kita berdua yang berada di kamar; aku bermalas-malasan di depan komputer, dan kamu menonton dvd di sebelahku. Kita bahkan tidak berbincang, dan kita sama-sama tahu bahwa aku menginginkanmu disitu hanya karena aku sedang tidak ingin sendiri, dan kamu pun sedang tidak memiliki rencana lain.
Dalam keheningan yang nyaman dan hanya diisi oleh suara film dari speaker, desing mesin komputerku, serta suhu yang panas di dalam kamar… terpikir olehku, bahwa aku ingin mencicil isi tulisan untuk zine yang hendak kususun. Maka aku mengajakmu pergi jalan-jalan keluar untuk menyisir jalanan jatinangor yang masih sepi paska lebaran, sekedar untuk mencari udara segar dan membeli arak, aku berpikir, minum sedikit, tidak perlu sampai mabuk, akan cukup menyenangkan untuk menemaniku menulis dan menonton film bersamamu, sebelum kita akan tertidur pulas.
Akhirnya kita berdua melompat dan berdiri, mencoba untuk lebih bersemangat; kemudian kita berpapasan sejenak dengan cermin panjang yang telah kumiliki semenjak masa awal aku menyewa kamar ini untuk tinggal bersamamu, ketika aku hendak memulai kuliah dua tahun yang lalu.
Kita tersenyum dan saling membandingkan tinggi kita yang sedikit berubah sambil menatap cermin itu. Lalu kita saling menoleh… aku bertanya iseng-iseng, saya gigit kamu ya? Dan kamu menjawab, coba aja. Aku menggigitmu pelan di bagian bawah belikatmu, dan secara berangsur mengeraskan gigitanku. Kamu mengerang. Ini berlangsung beberapa lama, hingga aku tertawa, hendak melepaskan gigitanku dan mengambil sepatu, namun kamu justru menahan tubuhku hingga tidak dapat bergerak. Kamu menatapku lekat. Pipimu kemerahan. Pola ini, sungguh familiar bagiku. Aku kurang lebih tahu, apa yang tengah kamu inginkan… maka aku menyeringai, dan menggigit lehermu. Selagi aku menggigit lehermu, kamu membalas dengan gigitan-gigitan kecil di leherku, dan diselingi jilatan-jilatan pada daun telinga dengan tempo yang semakin intens.
Kita memang telah melakukan ini pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, maka percampuran menyenangkan antara stimulasi rasa sakit dan rangsangan seksual ini tidak asing bagiku. Lagipula, aku dan kekasih-kekasihku memang sedang mengeksplorasi ruang yang serupa. Kemudian, kamu menciumku perlahan, dan berangsur mendalam. Tanganmu bergerak naik ke leherku. Kamu mencekikku semakin keras, dan menciumku semakin dalam. Kita saling bergumam, di sela-sela cium yang berkelanjutan, tentang pergi keluar untuk membeli arak, namun kita terus melanjutkan apa yang sedang kita lakukan. Lalu seperti sebelumnya, kita mengalir kedalam permainan seks yang berisi rangsangan rasa sakit, seperti mencubit, menggigit keras, mencakar, mencekik dan mencium dalam waktu yang sama. Permainan yang intens dimana kita bahkan tidak perlu saling bertukar kata. Kita hanya bertukar tatapan dan stimulasi indra. Selama waktu yang cukup lama. Kata yang sempat kukatakan sekilas hanyalah, kamu sungguh semakin berkembang.

Ketika kita selesai, kamu merebahkan kepalamu di pangkuanku, selagi kita mengatur nafas. Kamu mendongak, kita saling bercanda… dan ketika aku lengah, kamu menamparku sangat keras, yang setelah jeda sepersekian detik langsung kubalas dengan tamparan yang tak kalah kerasnya. Ada sedikit suara mendenging di telingaku. Tapi kita justru serentak tertawa lebar dan lepas. Kamu berceloteh tentang bagaimana momen itu mengingatkanmu kepada sebuah cerita yang kamu baca dalam kumpulan kisah Marquis de Sade yang sedang kamu senangi. Aku ingat, saat itu, aku merasa seolah ada sebuah lapisan es terakhir yang runtuh diantara kita. Dan aku telah begitu lama tidak merasakan perasaan selega itu, perasaan yang sangat familiar, yang sangat langka kurasakan dalam tahun terakhir.
Kita bahkan melanjutkan ke permainan kedua yang sepenuhnya berbeda, setelah kamu berpacaran dengan kekasihmu melalui situs sosial di internet, dan kemudian memintaku untuk menonton film bersama, kamu berkata, itu karena kamu ingin melakukan sesuatu bersamaku. Aku yakin kamu memang berniat menonton film itu, meskipun pada akhirnya kita tidak menonton film tersebut sama sekali.
Kali ini, hal yang kita lakukan sepenuhnya baru. Sebelum kita memulai, kamu meminta untuk kuikat, kusakiti, dan kupermalukan, seperti yang dahulu pernah satu kali kita lakukan saat masih tinggal bersama. Maka aku melakukannya. Kombinasi antara lilin dan guratan. Kamu meminta, jangan tinggalkan luka yang permanen. Maka, tidak seperti malam sebelum kita berpisah tahun lalu, tidak ada sundutan bara rokok dan guratan belati berkarat. Kali kedua ini, kita menyelesaikannya dengan cenderung cepat,… dan ketika ikatanmu terbuka, kamu tertawa-tawa bercampur kegemasan ingin membalas.
Wajahmu sungguh menggemaskan, namun pada saat yang sama aku juga merasakan perasaan terancam yang menggairahkan. Kamu, adalah lelaki pertama dan masih satu-satunya, yang bertukar peran denganku. Dimana kamu mencoba tenggelam dalam rasa sakit, terancam, dan tidak berdaya yang dibalut dengan berbagai rangsangan seksual; dan aku menyalurkan hasratku untuk mempermalukan, mendominasi dan menyakiti. Aku mengatakan terimakasih kepadamu, karena kamu membiarkanku melakukannya. Dan masih tertawa-tawa sambil berceloteh, kamu mengatakan hal yang sama.
Momen itu, adalah momen yang sungguh menyenangkan dan menenangkan bagiku. Aku merasa seolah kesuramanku perihal hubungan denganmu selama setahun kebelakang, secara seketika terhapus begitu saja. Aku menatapmu lekat sambil terdiam dan tersenyum kecil. Aku sungguh-sungguh merindukanmu, dan kedekatan kita yang seperti ini.

Kamu terus mengatakan bahwa kita harus bertemu lagi, dan aku harus bertukar peran denganmu, kamu berkata, bahwa aku harus mencoba rasa tetesan-tetesan lilin panas dalam keadaan terikat itu. Kamu sedari tadi memang menolak untuk menceritakan rasanya, dan bersikeras bahwa kamu harus membuatku mencobanya sendiri. Kamu tengah menegaskan hal itu, ketika mendadak kamu terdiam. Menyadari akan ada sesuatu, aku berhenti tertawa-tawa.

Kamu berkata, mmm… nggak jadi deh. Da, kita jangan hubungan badan lagi ya. Saya pengen temenan aja sama kamu.
Aku mencoba memperjelas, maksud kamu gimana?
Kamu menegaskan bahwa kamu ingin perubahan dalam hubungan kita, kamu ingin mencoba sekedar berteman denganku.

Apa tidak cukup jelas, kenapa aku terperangah? Sebelum kamu mendekat, apalagi yang aku anggap tersisa dari kita selain pertemanan? Seolah kamu harus perlahan membuatku gembira dan mulai terbuka, sebelum kemudian kembali membuangku lagi ketika aku lengah dan melayang, mencoba membuatku kembali terpuruk kedalam lubang hitam dimana kamu pernah meninggalkanku sebelumnya.
Setelah itu, kamu bahkan tidak mau memelukku.
Aku kemudian mengunci mulutku dan tidak membahasnya.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan bereaksi dengan datar. Aku ingin kembali mengunci rapat-rapat segala benteng perlindungan yang sudah kuruntuhkan sedikit demi sedikit di hadapanmu. Aku menyalakan komputer, dan mengakses internet. Sedikit keberuntungan, kekasihku yang tengah terjebak di Jakarta sedang online. Maka di depanmu, aku langsung menumpahkan kemuramanku kepada kekasihku. Aku memang ingin bercerita kepadanya, dan aku sangat membutuhkan canda-canda segar nya saat itu; namun aku sekaligus ingin menumpahkan kebencianku kepadamu, di depan matamu, dan bukan dengan kata-kata untukmu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tapi aku menolak untuk berbicara langsung kepadamu.

Kamu tahu? Aku selalu diam-diam sedikit berharap kamu mengingat kata-kata yang kita pertukarkan satu tahun delapan bulan yang lalu itu. Bahwa setelah salah satu berubah pikiran, kita akan kembali begitu saja. Kenyataannya, selagi waktu mengalir, kamu lah yang berubah pikiran dan mulai memiliki beberapa kekasih sekaligus, seperti yang aku lakukan. Aku tetap diam selama ini, karena aku sadar betapa naïf nya pengharapan bahwa kamu masih akan menganggap perjanjian itu. Walaupun begitu, aku masih membiarkan sedikit harapan mengendap di pojokan, dan aku menunggu… satu tahun delapan bulan. Kekasihku itu mencoba menghiburku lewat layar chat, dengan menjadikannya bahan candaan. Dahulu, pernah ketika ia secara naïf menunggu seorang kekasih yang memintanya untuk menunggu; ia tetap menunggu orang itu selama satu setengah tahun. Ia berkata, bahkan sebodoh-bodohnya saya, saya nyadar dua bulan lebih cepet dari kamu. Ia sempat membuatku tersenyum. Tapi perasaanku masih terasa sungguh pahit. Dan kamu, kamu hanya bergumam-gumam kecil di sebelahku. Aku merasa dihianati, tertipu, dan aku benar-benar ingin membencimu!
Kamu berhasil membuat kita mengobrol sejenak mengenai apa yang kupikirkan, sebelum kamu terus mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain. Aku membenamkan kepala dalam bantal. Mataku secara sukarela mengalirkan air. Baru beberapa lama matahari terbit, dan kamu memutuskan untuk pergi.


Aku menghabiskan hari ini mengurung diri di tengah dinding-dinding merah kamarku, dengan lampu yang dimatikan. Aku menyalakan lagu keras-keras. Aku hanya ingin kebisingan, karena di tengah kebisingan lagu, erangan-eranganku tak akan terdengar. Aku tidak menginginkan ada sisa keheningan untuk berpikir. Dalam kebisingan yang intens, yang tersisa hanyalah emosi dan rasa.
Seperti yang kamu selalu tahu, kehilangan adalah kelemahanku yang terburuk.
Dan selagi kamu terus menerus membuatku terpuruk dengan melakukan permainan buka-tutup kepada lukaku, aku terus berharap aku bisa menghimpun kekuatan untuk membencimu. Bukankah dalam hidupmu yang kamu anggap permainan, aku hanyalah salah satu dari sekian permainan yang tersedia? Dan aku, sangat lemah dalam menerima hal itu.
Aku sempat berpikir untuk mencoba tidak menemuimu lagi, untuk waktu yang sangat-sangat lama. Ada rasa sakit dalam perasaanku, yang sungguh jauh lebih menyiksa dibandingkan sakit pada tubuh. Ia adalah sesuatu yang membuatku takut. Ia adalah bayangan pada cermin ditengah malam yang bercahaya minim, yang aku hindari. Ia menuntutku, untuk membalasmu.

Hari ini, dinding-dinding merah ini meredam suara dari kamarku yang dipenuhi dengan kebisingan dan berbagai ekspresi kegalauan yang agresif. Hingga aku tiba pada titik, dimana aku merasakan kebutuhan untuk mengkonfrontasi rasa kehilangan ini. Mungkin aku memang butuh untuk membencimu, tapi aku harus merangkul rasa sakit ini. Aku tidak ingin lagi dapat terjebak dalam perangkap menyakitkan yang sadar tidak sadar kamu ciptakan. Aku butuh untuk memahami seluk beluk diriku, dan lebih mampu untuk meresapi hidupku karenanya.


Zombie-zombie di luar sana, aku tahu mereka merasakan sakit,..namun bukankah mayoritas dari mereka memilih untuk menyangkalnya dan mengalihkannya kepada hal-hal delusional seperti posesi material, citra, agama, surga dan tuhan? Untukku sendiri, mereka yang tidak dapat memahami rasa bukanlah orang yang hidup. Dan orang yang menyangkal dan lari dari rasa sakitnya, tidak akan pernah memahami dirinya.

Sejujurnya, saat ini aku sangat ingin membencimu, tapi ada suara yang berkata di dalam diriku, bahwa mungkin suatu saat aku akan mengatakan terimakasih kepadamu untuk rasa sakit ini. Mungkin kemudian nanti, aku akan beranjak pergi dari kebutuhan untuk membencimu; orang yang sempat sangat-sangat aku sayangi.


I want to understand pain, in order to comprehend pleasure.
Without any understanding of one’s own feeling, there’s no point in living.