Apapun kutuk yang kau lempar untuk semua diluar dirimu--bukankah itu semua hanya pembenaranmu? Kita telah berjalan cukup jauh, untuk memahami bahwa kita tak akan pernah memahami kebenaran apapun, selain yang untuk diri kita sendiri.
Lucu untuk menatap cinta; cinta yang selalu kau koar-koarkan.
Dibalik tirai-tirai penyangkalan itu...nampaknya cinta apapun yang kita bicarakan, tak lebih dari cinta pada diri sendiri.
Aku tak mampu bicara hal abstrak seperti cinta kepada seseorang yang membuang cinta teman seperjalanan ketika ia tak membutuhkannya lagi.
Atau justru itu inti dari pembicaraanmu?
Segala cinta berbuih ludah yang kau cipratkan itu?
Apakah teman hanyalah teman ketika kita melihat bagian dari diri kita padanya?
Dan ketika ia menyangkalmu, apa membuangnya adalah semudah membuang tinja kemarin lusa?
Aku telah menatap ular yang terbaring di jalanku cukup lama.
Lidahnya berbisa; hanya racun yang dapat ia bagi kepadaku.
Selagi ia menggigitku, ia tersenyum manis, terlalu manis.
Kadang rasanya muak, tapi aku hanya menatapnya. Bertahun telah lewat tapi sulit untukku membencinya. Karena mungkin, ia menyembur racun hanya karena ia adalah ular--mungkin sungguh bukan salahnya. Tapi kamu tahu, bisa nya menari-nari dalam darahku. Nadi ku meretas karena ular itu. Dan kini ketika aku hendak beranjak meninggalkannya, entah rasa apa yang bermain dalam darahku ketika kutatap ular itu merengkuhmu sambil terkikik manja...dan kau membelainya.
Apa ia memberimu nyaman? Tahu kan, nyaman yang selalu kau kutuk itu.
Aku hilang hasrat mengatakan apapun kepadamu...yaya, lagipula bukankah kau adalah tuhanmu sendiri atau apalah itu. Jadi seperti katamu, kau memilih sendiri langkahmu.
Apa kita semua mati setelah hanya memori yang tersisa?
Kini setelah aku beranjak pergi dan memunggungimu, apakah benar kau akan mati bagiku? Membusuk, dead and crassed?
...karena aku pun bosan dengan melankolia tak berkesudahan.
Namun aku juga lelah dengan segala koar yang tak membawa kita kemana-mana.
Kau bertanya bukti, tapi mana buktimu??
Adakah dari kita yang hanya duduk diam disini, manja dalam orgasme-cinta-diri kita ini, memiliki bukti apapun untuk pembenaran yang gaungnya telah kita putar ulang berkali-kali?
Aku lelah dengan koar kita yang penuh pura-pura.
Terserah denganmu, tapi ketika aku masih menyembunyikan badanku dari peperangan langsung,, aku tak akan berpura-pura bahwa aku...tahu kan, sudah melakukannya.
Jadi mungkin ketika kita masih tetap menelan apa-apa yang sempat kita muntahkan;
untukmu ular dan para pemujamu, dan untukku...tangan apapun yang menyambutku di jalan ini.
talk the walk, walk the talk.
could you really really walk and talk at the same time.?
Tampilkan postingan dengan label despair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label despair. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Februari 2010
Jumat, 25 September 2009
Merengkuh Sakit.
Yang paling aku inginkan saat ini adalah kebisingan absolut…yang menyenangkan dan indah. Yang menyelimuti, mencakupi, dan menutupi segala kesakitan, kegagalan, serta kesia-siaan kata-kata.
Dinding-dinding merah berlumut yang berhiaskan corat-coret galau berwarna hitam, lantai keramik dingin berwarna putih yang tertutup oleh baju dan dokumen yang berserakan, tumpukan gelas kotor yang diletakkan di sudut tangga… sudah nyaris dua tahun, kamarku ini menemaniku saat tinggal bersamamu, sekaligus menjadi sandaranku tiap saat kamu memutuskan untuk pergi dari sini.
Matahari pagi ini terasa menyilaukan. Mungkin karena mataku tengah menyipit dan sembab.
Semua ini; kelelahan akibat menangis, malam tanpa tidur, pertukaran kata yang sedikit namun sangat menyakitkan, berbagai lebam, luka bakar, dan luka gigitan yang masih segar di tubuh kita masing-masing... serta aku yang memohonmu untuk memberikan peluk terakhir… sungguh serupa dengan pagi hari di kamar yang kau sewa di setiabudhi, pada tanggal tiga maret tahun lalu. Namun saat itu, kamu masih lembut dan bersedia memeluk hangat. Saat itu, kita masih seperti dua bocah yang nyaris tak pernah bisa terpisah lama-lama. Dan saat itu, kita tengah membulatkan tekad untuk mengambil pilihan masing-masing, sekaligus menjanjikan konsekuensinya: kita akan berpisah sementara, hingga salah satu dari kita berubah pikiran dan berpindah pilihan.
Sudah satu tahun delapan bulan semenjak hari itu, dan begitu banyak sakit hati yang telah kita pertukarkan. Hubungan kita tereduksi akibat intensitas bertemu yang berkurang drastis, hal-hal baru yang kita masing-masing coba, dan keintiman emosional yang berfluktuasi tanpa pola. Hingga bulan-bulan lalu, aku telah cukup berhasil untuk mencoba menerima, bahwa nyaris tidak ada yang tersisa dari kita. Walaupun memang terkadang, bila murung; aku menyalahkanmu secara subjektif, dan menuduhmu meninggalkanku, meskipun kamu telah begitu akrab dengan tendensi-tendensi psikologisku yang konyol. Kepergianmu, sesungguhnya merupakan salah satu dari sekian penyebab guratan-guratan luka yang sempat kuletakkan di tubuhku, sekaligus pemicu keintimanku dengan inferioritasku yang sebelumnya kukurung sangat rapi.
Bulan-bulan terakhir ketika wujudmu mulai hadir lagi dalam keseharianku, segala simptom ‘despair’ itu telah memupus dari pikiranku. Aku kini mulai dapat menemukan kembali kesenangan dalam eksplorasi-eksplorasi sederhana seperti menggambar, menerjemah, menulis, serta menambah varian dalam eksplorasi seks dengan kekasih-kekasihku.
Entah kenapa pada saat ketika aku mulai mencoba menyegarkan diriku inilah, kamu mendekat. Kita mulai iseng menyempatkan waktu untuk menginap, sekedar bertukar cerita tentang kekasih masing-masing, kegelisahan-kegelisahan harian, dan menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah kita lakukan dengan penuh keyakinan. Terkadang, bila situasi cukup menyenangkan, secara alami kita mengalir kedalam permainan seks yang telah berkembang dan berbeda dari permainan kita dulu. Aku ingat beberapa minggu lalu, aku merebahkan kepala di dadamu yang telanjang, di tengah pelukanmu yang khas, sambil tersenyum mendengarkan cerita lucumu tentang pasangan terakhirmu. Saat itu aku berpikir, betapa aku merindukan kamu dan cerita-ceritamu, suasana kita yang seperti ini. Tawamu yang riang dan celotehmu yang cepat dan ceria, matamu yang berkilau-kilau dan menyipit ketika sedang menceritakan hal yang kamu senangi.
Malam kemarin, kamu datang ke kosanku untuk sekedar bermain dan mengunjungi kami bertiga; aku, seorang mantan pasanganku, dan kekasihku. Kau bahkan sudah cukup akrab dengan mereka, untuk bisa bertukar cerita dengan santai dan bersemangat, seperti yang biasanya kamu lakukan. Kamu juga membawakan makanan masakan ibumu untuk kami makan, karena persediaan makan kami sudah habis. Ketika kekasihku dan mantanku memutuskan untuk pergi ke Bandung, dan aku memilih untuk tinggal di kamar karena masih merasa malas dan lelah… aku sebenarnya sama sekali tidak berharap ada hal spesial apapun yang kita lakukan.
Sesuai ekspektasiku, setelah hanya kita berdua yang berada di kamar; aku bermalas-malasan di depan komputer, dan kamu menonton dvd di sebelahku. Kita bahkan tidak berbincang, dan kita sama-sama tahu bahwa aku menginginkanmu disitu hanya karena aku sedang tidak ingin sendiri, dan kamu pun sedang tidak memiliki rencana lain.
Dalam keheningan yang nyaman dan hanya diisi oleh suara film dari speaker, desing mesin komputerku, serta suhu yang panas di dalam kamar… terpikir olehku, bahwa aku ingin mencicil isi tulisan untuk zine yang hendak kususun. Maka aku mengajakmu pergi jalan-jalan keluar untuk menyisir jalanan jatinangor yang masih sepi paska lebaran, sekedar untuk mencari udara segar dan membeli arak, aku berpikir, minum sedikit, tidak perlu sampai mabuk, akan cukup menyenangkan untuk menemaniku menulis dan menonton film bersamamu, sebelum kita akan tertidur pulas.
Akhirnya kita berdua melompat dan berdiri, mencoba untuk lebih bersemangat; kemudian kita berpapasan sejenak dengan cermin panjang yang telah kumiliki semenjak masa awal aku menyewa kamar ini untuk tinggal bersamamu, ketika aku hendak memulai kuliah dua tahun yang lalu.
Kita tersenyum dan saling membandingkan tinggi kita yang sedikit berubah sambil menatap cermin itu. Lalu kita saling menoleh… aku bertanya iseng-iseng, saya gigit kamu ya? Dan kamu menjawab, coba aja. Aku menggigitmu pelan di bagian bawah belikatmu, dan secara berangsur mengeraskan gigitanku. Kamu mengerang. Ini berlangsung beberapa lama, hingga aku tertawa, hendak melepaskan gigitanku dan mengambil sepatu, namun kamu justru menahan tubuhku hingga tidak dapat bergerak. Kamu menatapku lekat. Pipimu kemerahan. Pola ini, sungguh familiar bagiku. Aku kurang lebih tahu, apa yang tengah kamu inginkan… maka aku menyeringai, dan menggigit lehermu. Selagi aku menggigit lehermu, kamu membalas dengan gigitan-gigitan kecil di leherku, dan diselingi jilatan-jilatan pada daun telinga dengan tempo yang semakin intens.
Kita memang telah melakukan ini pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, maka percampuran menyenangkan antara stimulasi rasa sakit dan rangsangan seksual ini tidak asing bagiku. Lagipula, aku dan kekasih-kekasihku memang sedang mengeksplorasi ruang yang serupa. Kemudian, kamu menciumku perlahan, dan berangsur mendalam. Tanganmu bergerak naik ke leherku. Kamu mencekikku semakin keras, dan menciumku semakin dalam. Kita saling bergumam, di sela-sela cium yang berkelanjutan, tentang pergi keluar untuk membeli arak, namun kita terus melanjutkan apa yang sedang kita lakukan. Lalu seperti sebelumnya, kita mengalir kedalam permainan seks yang berisi rangsangan rasa sakit, seperti mencubit, menggigit keras, mencakar, mencekik dan mencium dalam waktu yang sama. Permainan yang intens dimana kita bahkan tidak perlu saling bertukar kata. Kita hanya bertukar tatapan dan stimulasi indra. Selama waktu yang cukup lama. Kata yang sempat kukatakan sekilas hanyalah, kamu sungguh semakin berkembang.
Ketika kita selesai, kamu merebahkan kepalamu di pangkuanku, selagi kita mengatur nafas. Kamu mendongak, kita saling bercanda… dan ketika aku lengah, kamu menamparku sangat keras, yang setelah jeda sepersekian detik langsung kubalas dengan tamparan yang tak kalah kerasnya. Ada sedikit suara mendenging di telingaku. Tapi kita justru serentak tertawa lebar dan lepas. Kamu berceloteh tentang bagaimana momen itu mengingatkanmu kepada sebuah cerita yang kamu baca dalam kumpulan kisah Marquis de Sade yang sedang kamu senangi. Aku ingat, saat itu, aku merasa seolah ada sebuah lapisan es terakhir yang runtuh diantara kita. Dan aku telah begitu lama tidak merasakan perasaan selega itu, perasaan yang sangat familiar, yang sangat langka kurasakan dalam tahun terakhir.
Kita bahkan melanjutkan ke permainan kedua yang sepenuhnya berbeda, setelah kamu berpacaran dengan kekasihmu melalui situs sosial di internet, dan kemudian memintaku untuk menonton film bersama, kamu berkata, itu karena kamu ingin melakukan sesuatu bersamaku. Aku yakin kamu memang berniat menonton film itu, meskipun pada akhirnya kita tidak menonton film tersebut sama sekali.
Kali ini, hal yang kita lakukan sepenuhnya baru. Sebelum kita memulai, kamu meminta untuk kuikat, kusakiti, dan kupermalukan, seperti yang dahulu pernah satu kali kita lakukan saat masih tinggal bersama. Maka aku melakukannya. Kombinasi antara lilin dan guratan. Kamu meminta, jangan tinggalkan luka yang permanen. Maka, tidak seperti malam sebelum kita berpisah tahun lalu, tidak ada sundutan bara rokok dan guratan belati berkarat. Kali kedua ini, kita menyelesaikannya dengan cenderung cepat,… dan ketika ikatanmu terbuka, kamu tertawa-tawa bercampur kegemasan ingin membalas.
Wajahmu sungguh menggemaskan, namun pada saat yang sama aku juga merasakan perasaan terancam yang menggairahkan. Kamu, adalah lelaki pertama dan masih satu-satunya, yang bertukar peran denganku. Dimana kamu mencoba tenggelam dalam rasa sakit, terancam, dan tidak berdaya yang dibalut dengan berbagai rangsangan seksual; dan aku menyalurkan hasratku untuk mempermalukan, mendominasi dan menyakiti. Aku mengatakan terimakasih kepadamu, karena kamu membiarkanku melakukannya. Dan masih tertawa-tawa sambil berceloteh, kamu mengatakan hal yang sama.
Momen itu, adalah momen yang sungguh menyenangkan dan menenangkan bagiku. Aku merasa seolah kesuramanku perihal hubungan denganmu selama setahun kebelakang, secara seketika terhapus begitu saja. Aku menatapmu lekat sambil terdiam dan tersenyum kecil. Aku sungguh-sungguh merindukanmu, dan kedekatan kita yang seperti ini.
Kamu terus mengatakan bahwa kita harus bertemu lagi, dan aku harus bertukar peran denganmu, kamu berkata, bahwa aku harus mencoba rasa tetesan-tetesan lilin panas dalam keadaan terikat itu. Kamu sedari tadi memang menolak untuk menceritakan rasanya, dan bersikeras bahwa kamu harus membuatku mencobanya sendiri. Kamu tengah menegaskan hal itu, ketika mendadak kamu terdiam. Menyadari akan ada sesuatu, aku berhenti tertawa-tawa.
Kamu berkata, mmm… nggak jadi deh. Da, kita jangan hubungan badan lagi ya. Saya pengen temenan aja sama kamu.
Aku mencoba memperjelas, maksud kamu gimana?
Kamu menegaskan bahwa kamu ingin perubahan dalam hubungan kita, kamu ingin mencoba sekedar berteman denganku.
Apa tidak cukup jelas, kenapa aku terperangah? Sebelum kamu mendekat, apalagi yang aku anggap tersisa dari kita selain pertemanan? Seolah kamu harus perlahan membuatku gembira dan mulai terbuka, sebelum kemudian kembali membuangku lagi ketika aku lengah dan melayang, mencoba membuatku kembali terpuruk kedalam lubang hitam dimana kamu pernah meninggalkanku sebelumnya.
Setelah itu, kamu bahkan tidak mau memelukku.
Aku kemudian mengunci mulutku dan tidak membahasnya.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan bereaksi dengan datar. Aku ingin kembali mengunci rapat-rapat segala benteng perlindungan yang sudah kuruntuhkan sedikit demi sedikit di hadapanmu. Aku menyalakan komputer, dan mengakses internet. Sedikit keberuntungan, kekasihku yang tengah terjebak di Jakarta sedang online. Maka di depanmu, aku langsung menumpahkan kemuramanku kepada kekasihku. Aku memang ingin bercerita kepadanya, dan aku sangat membutuhkan canda-canda segar nya saat itu; namun aku sekaligus ingin menumpahkan kebencianku kepadamu, di depan matamu, dan bukan dengan kata-kata untukmu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tapi aku menolak untuk berbicara langsung kepadamu.
Kamu tahu? Aku selalu diam-diam sedikit berharap kamu mengingat kata-kata yang kita pertukarkan satu tahun delapan bulan yang lalu itu. Bahwa setelah salah satu berubah pikiran, kita akan kembali begitu saja. Kenyataannya, selagi waktu mengalir, kamu lah yang berubah pikiran dan mulai memiliki beberapa kekasih sekaligus, seperti yang aku lakukan. Aku tetap diam selama ini, karena aku sadar betapa naïf nya pengharapan bahwa kamu masih akan menganggap perjanjian itu. Walaupun begitu, aku masih membiarkan sedikit harapan mengendap di pojokan, dan aku menunggu… satu tahun delapan bulan. Kekasihku itu mencoba menghiburku lewat layar chat, dengan menjadikannya bahan candaan. Dahulu, pernah ketika ia secara naïf menunggu seorang kekasih yang memintanya untuk menunggu; ia tetap menunggu orang itu selama satu setengah tahun. Ia berkata, bahkan sebodoh-bodohnya saya, saya nyadar dua bulan lebih cepet dari kamu. Ia sempat membuatku tersenyum. Tapi perasaanku masih terasa sungguh pahit. Dan kamu, kamu hanya bergumam-gumam kecil di sebelahku. Aku merasa dihianati, tertipu, dan aku benar-benar ingin membencimu!
Kamu berhasil membuat kita mengobrol sejenak mengenai apa yang kupikirkan, sebelum kamu terus mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain. Aku membenamkan kepala dalam bantal. Mataku secara sukarela mengalirkan air. Baru beberapa lama matahari terbit, dan kamu memutuskan untuk pergi.
Aku menghabiskan hari ini mengurung diri di tengah dinding-dinding merah kamarku, dengan lampu yang dimatikan. Aku menyalakan lagu keras-keras. Aku hanya ingin kebisingan, karena di tengah kebisingan lagu, erangan-eranganku tak akan terdengar. Aku tidak menginginkan ada sisa keheningan untuk berpikir. Dalam kebisingan yang intens, yang tersisa hanyalah emosi dan rasa.
Seperti yang kamu selalu tahu, kehilangan adalah kelemahanku yang terburuk.
Dan selagi kamu terus menerus membuatku terpuruk dengan melakukan permainan buka-tutup kepada lukaku, aku terus berharap aku bisa menghimpun kekuatan untuk membencimu. Bukankah dalam hidupmu yang kamu anggap permainan, aku hanyalah salah satu dari sekian permainan yang tersedia? Dan aku, sangat lemah dalam menerima hal itu.
Aku sempat berpikir untuk mencoba tidak menemuimu lagi, untuk waktu yang sangat-sangat lama. Ada rasa sakit dalam perasaanku, yang sungguh jauh lebih menyiksa dibandingkan sakit pada tubuh. Ia adalah sesuatu yang membuatku takut. Ia adalah bayangan pada cermin ditengah malam yang bercahaya minim, yang aku hindari. Ia menuntutku, untuk membalasmu.
Hari ini, dinding-dinding merah ini meredam suara dari kamarku yang dipenuhi dengan kebisingan dan berbagai ekspresi kegalauan yang agresif. Hingga aku tiba pada titik, dimana aku merasakan kebutuhan untuk mengkonfrontasi rasa kehilangan ini. Mungkin aku memang butuh untuk membencimu, tapi aku harus merangkul rasa sakit ini. Aku tidak ingin lagi dapat terjebak dalam perangkap menyakitkan yang sadar tidak sadar kamu ciptakan. Aku butuh untuk memahami seluk beluk diriku, dan lebih mampu untuk meresapi hidupku karenanya.
Zombie-zombie di luar sana, aku tahu mereka merasakan sakit,..namun bukankah mayoritas dari mereka memilih untuk menyangkalnya dan mengalihkannya kepada hal-hal delusional seperti posesi material, citra, agama, surga dan tuhan? Untukku sendiri, mereka yang tidak dapat memahami rasa bukanlah orang yang hidup. Dan orang yang menyangkal dan lari dari rasa sakitnya, tidak akan pernah memahami dirinya.
Sejujurnya, saat ini aku sangat ingin membencimu, tapi ada suara yang berkata di dalam diriku, bahwa mungkin suatu saat aku akan mengatakan terimakasih kepadamu untuk rasa sakit ini. Mungkin kemudian nanti, aku akan beranjak pergi dari kebutuhan untuk membencimu; orang yang sempat sangat-sangat aku sayangi.
I want to understand pain, in order to comprehend pleasure.
Without any understanding of one’s own feeling, there’s no point in living.
Dinding-dinding merah berlumut yang berhiaskan corat-coret galau berwarna hitam, lantai keramik dingin berwarna putih yang tertutup oleh baju dan dokumen yang berserakan, tumpukan gelas kotor yang diletakkan di sudut tangga… sudah nyaris dua tahun, kamarku ini menemaniku saat tinggal bersamamu, sekaligus menjadi sandaranku tiap saat kamu memutuskan untuk pergi dari sini.
Matahari pagi ini terasa menyilaukan. Mungkin karena mataku tengah menyipit dan sembab.
Semua ini; kelelahan akibat menangis, malam tanpa tidur, pertukaran kata yang sedikit namun sangat menyakitkan, berbagai lebam, luka bakar, dan luka gigitan yang masih segar di tubuh kita masing-masing... serta aku yang memohonmu untuk memberikan peluk terakhir… sungguh serupa dengan pagi hari di kamar yang kau sewa di setiabudhi, pada tanggal tiga maret tahun lalu. Namun saat itu, kamu masih lembut dan bersedia memeluk hangat. Saat itu, kita masih seperti dua bocah yang nyaris tak pernah bisa terpisah lama-lama. Dan saat itu, kita tengah membulatkan tekad untuk mengambil pilihan masing-masing, sekaligus menjanjikan konsekuensinya: kita akan berpisah sementara, hingga salah satu dari kita berubah pikiran dan berpindah pilihan.
Sudah satu tahun delapan bulan semenjak hari itu, dan begitu banyak sakit hati yang telah kita pertukarkan. Hubungan kita tereduksi akibat intensitas bertemu yang berkurang drastis, hal-hal baru yang kita masing-masing coba, dan keintiman emosional yang berfluktuasi tanpa pola. Hingga bulan-bulan lalu, aku telah cukup berhasil untuk mencoba menerima, bahwa nyaris tidak ada yang tersisa dari kita. Walaupun memang terkadang, bila murung; aku menyalahkanmu secara subjektif, dan menuduhmu meninggalkanku, meskipun kamu telah begitu akrab dengan tendensi-tendensi psikologisku yang konyol. Kepergianmu, sesungguhnya merupakan salah satu dari sekian penyebab guratan-guratan luka yang sempat kuletakkan di tubuhku, sekaligus pemicu keintimanku dengan inferioritasku yang sebelumnya kukurung sangat rapi.
Bulan-bulan terakhir ketika wujudmu mulai hadir lagi dalam keseharianku, segala simptom ‘despair’ itu telah memupus dari pikiranku. Aku kini mulai dapat menemukan kembali kesenangan dalam eksplorasi-eksplorasi sederhana seperti menggambar, menerjemah, menulis, serta menambah varian dalam eksplorasi seks dengan kekasih-kekasihku.
Entah kenapa pada saat ketika aku mulai mencoba menyegarkan diriku inilah, kamu mendekat. Kita mulai iseng menyempatkan waktu untuk menginap, sekedar bertukar cerita tentang kekasih masing-masing, kegelisahan-kegelisahan harian, dan menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah kita lakukan dengan penuh keyakinan. Terkadang, bila situasi cukup menyenangkan, secara alami kita mengalir kedalam permainan seks yang telah berkembang dan berbeda dari permainan kita dulu. Aku ingat beberapa minggu lalu, aku merebahkan kepala di dadamu yang telanjang, di tengah pelukanmu yang khas, sambil tersenyum mendengarkan cerita lucumu tentang pasangan terakhirmu. Saat itu aku berpikir, betapa aku merindukan kamu dan cerita-ceritamu, suasana kita yang seperti ini. Tawamu yang riang dan celotehmu yang cepat dan ceria, matamu yang berkilau-kilau dan menyipit ketika sedang menceritakan hal yang kamu senangi.
Malam kemarin, kamu datang ke kosanku untuk sekedar bermain dan mengunjungi kami bertiga; aku, seorang mantan pasanganku, dan kekasihku. Kau bahkan sudah cukup akrab dengan mereka, untuk bisa bertukar cerita dengan santai dan bersemangat, seperti yang biasanya kamu lakukan. Kamu juga membawakan makanan masakan ibumu untuk kami makan, karena persediaan makan kami sudah habis. Ketika kekasihku dan mantanku memutuskan untuk pergi ke Bandung, dan aku memilih untuk tinggal di kamar karena masih merasa malas dan lelah… aku sebenarnya sama sekali tidak berharap ada hal spesial apapun yang kita lakukan.
Sesuai ekspektasiku, setelah hanya kita berdua yang berada di kamar; aku bermalas-malasan di depan komputer, dan kamu menonton dvd di sebelahku. Kita bahkan tidak berbincang, dan kita sama-sama tahu bahwa aku menginginkanmu disitu hanya karena aku sedang tidak ingin sendiri, dan kamu pun sedang tidak memiliki rencana lain.
Dalam keheningan yang nyaman dan hanya diisi oleh suara film dari speaker, desing mesin komputerku, serta suhu yang panas di dalam kamar… terpikir olehku, bahwa aku ingin mencicil isi tulisan untuk zine yang hendak kususun. Maka aku mengajakmu pergi jalan-jalan keluar untuk menyisir jalanan jatinangor yang masih sepi paska lebaran, sekedar untuk mencari udara segar dan membeli arak, aku berpikir, minum sedikit, tidak perlu sampai mabuk, akan cukup menyenangkan untuk menemaniku menulis dan menonton film bersamamu, sebelum kita akan tertidur pulas.
Akhirnya kita berdua melompat dan berdiri, mencoba untuk lebih bersemangat; kemudian kita berpapasan sejenak dengan cermin panjang yang telah kumiliki semenjak masa awal aku menyewa kamar ini untuk tinggal bersamamu, ketika aku hendak memulai kuliah dua tahun yang lalu.
Kita tersenyum dan saling membandingkan tinggi kita yang sedikit berubah sambil menatap cermin itu. Lalu kita saling menoleh… aku bertanya iseng-iseng, saya gigit kamu ya? Dan kamu menjawab, coba aja. Aku menggigitmu pelan di bagian bawah belikatmu, dan secara berangsur mengeraskan gigitanku. Kamu mengerang. Ini berlangsung beberapa lama, hingga aku tertawa, hendak melepaskan gigitanku dan mengambil sepatu, namun kamu justru menahan tubuhku hingga tidak dapat bergerak. Kamu menatapku lekat. Pipimu kemerahan. Pola ini, sungguh familiar bagiku. Aku kurang lebih tahu, apa yang tengah kamu inginkan… maka aku menyeringai, dan menggigit lehermu. Selagi aku menggigit lehermu, kamu membalas dengan gigitan-gigitan kecil di leherku, dan diselingi jilatan-jilatan pada daun telinga dengan tempo yang semakin intens.
Kita memang telah melakukan ini pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, maka percampuran menyenangkan antara stimulasi rasa sakit dan rangsangan seksual ini tidak asing bagiku. Lagipula, aku dan kekasih-kekasihku memang sedang mengeksplorasi ruang yang serupa. Kemudian, kamu menciumku perlahan, dan berangsur mendalam. Tanganmu bergerak naik ke leherku. Kamu mencekikku semakin keras, dan menciumku semakin dalam. Kita saling bergumam, di sela-sela cium yang berkelanjutan, tentang pergi keluar untuk membeli arak, namun kita terus melanjutkan apa yang sedang kita lakukan. Lalu seperti sebelumnya, kita mengalir kedalam permainan seks yang berisi rangsangan rasa sakit, seperti mencubit, menggigit keras, mencakar, mencekik dan mencium dalam waktu yang sama. Permainan yang intens dimana kita bahkan tidak perlu saling bertukar kata. Kita hanya bertukar tatapan dan stimulasi indra. Selama waktu yang cukup lama. Kata yang sempat kukatakan sekilas hanyalah, kamu sungguh semakin berkembang.
Ketika kita selesai, kamu merebahkan kepalamu di pangkuanku, selagi kita mengatur nafas. Kamu mendongak, kita saling bercanda… dan ketika aku lengah, kamu menamparku sangat keras, yang setelah jeda sepersekian detik langsung kubalas dengan tamparan yang tak kalah kerasnya. Ada sedikit suara mendenging di telingaku. Tapi kita justru serentak tertawa lebar dan lepas. Kamu berceloteh tentang bagaimana momen itu mengingatkanmu kepada sebuah cerita yang kamu baca dalam kumpulan kisah Marquis de Sade yang sedang kamu senangi. Aku ingat, saat itu, aku merasa seolah ada sebuah lapisan es terakhir yang runtuh diantara kita. Dan aku telah begitu lama tidak merasakan perasaan selega itu, perasaan yang sangat familiar, yang sangat langka kurasakan dalam tahun terakhir.
Kita bahkan melanjutkan ke permainan kedua yang sepenuhnya berbeda, setelah kamu berpacaran dengan kekasihmu melalui situs sosial di internet, dan kemudian memintaku untuk menonton film bersama, kamu berkata, itu karena kamu ingin melakukan sesuatu bersamaku. Aku yakin kamu memang berniat menonton film itu, meskipun pada akhirnya kita tidak menonton film tersebut sama sekali.
Kali ini, hal yang kita lakukan sepenuhnya baru. Sebelum kita memulai, kamu meminta untuk kuikat, kusakiti, dan kupermalukan, seperti yang dahulu pernah satu kali kita lakukan saat masih tinggal bersama. Maka aku melakukannya. Kombinasi antara lilin dan guratan. Kamu meminta, jangan tinggalkan luka yang permanen. Maka, tidak seperti malam sebelum kita berpisah tahun lalu, tidak ada sundutan bara rokok dan guratan belati berkarat. Kali kedua ini, kita menyelesaikannya dengan cenderung cepat,… dan ketika ikatanmu terbuka, kamu tertawa-tawa bercampur kegemasan ingin membalas.
Wajahmu sungguh menggemaskan, namun pada saat yang sama aku juga merasakan perasaan terancam yang menggairahkan. Kamu, adalah lelaki pertama dan masih satu-satunya, yang bertukar peran denganku. Dimana kamu mencoba tenggelam dalam rasa sakit, terancam, dan tidak berdaya yang dibalut dengan berbagai rangsangan seksual; dan aku menyalurkan hasratku untuk mempermalukan, mendominasi dan menyakiti. Aku mengatakan terimakasih kepadamu, karena kamu membiarkanku melakukannya. Dan masih tertawa-tawa sambil berceloteh, kamu mengatakan hal yang sama.
Momen itu, adalah momen yang sungguh menyenangkan dan menenangkan bagiku. Aku merasa seolah kesuramanku perihal hubungan denganmu selama setahun kebelakang, secara seketika terhapus begitu saja. Aku menatapmu lekat sambil terdiam dan tersenyum kecil. Aku sungguh-sungguh merindukanmu, dan kedekatan kita yang seperti ini.
Kamu terus mengatakan bahwa kita harus bertemu lagi, dan aku harus bertukar peran denganmu, kamu berkata, bahwa aku harus mencoba rasa tetesan-tetesan lilin panas dalam keadaan terikat itu. Kamu sedari tadi memang menolak untuk menceritakan rasanya, dan bersikeras bahwa kamu harus membuatku mencobanya sendiri. Kamu tengah menegaskan hal itu, ketika mendadak kamu terdiam. Menyadari akan ada sesuatu, aku berhenti tertawa-tawa.
Kamu berkata, mmm… nggak jadi deh. Da, kita jangan hubungan badan lagi ya. Saya pengen temenan aja sama kamu.
Aku mencoba memperjelas, maksud kamu gimana?
Kamu menegaskan bahwa kamu ingin perubahan dalam hubungan kita, kamu ingin mencoba sekedar berteman denganku.
Apa tidak cukup jelas, kenapa aku terperangah? Sebelum kamu mendekat, apalagi yang aku anggap tersisa dari kita selain pertemanan? Seolah kamu harus perlahan membuatku gembira dan mulai terbuka, sebelum kemudian kembali membuangku lagi ketika aku lengah dan melayang, mencoba membuatku kembali terpuruk kedalam lubang hitam dimana kamu pernah meninggalkanku sebelumnya.
Setelah itu, kamu bahkan tidak mau memelukku.
Aku kemudian mengunci mulutku dan tidak membahasnya.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan bereaksi dengan datar. Aku ingin kembali mengunci rapat-rapat segala benteng perlindungan yang sudah kuruntuhkan sedikit demi sedikit di hadapanmu. Aku menyalakan komputer, dan mengakses internet. Sedikit keberuntungan, kekasihku yang tengah terjebak di Jakarta sedang online. Maka di depanmu, aku langsung menumpahkan kemuramanku kepada kekasihku. Aku memang ingin bercerita kepadanya, dan aku sangat membutuhkan canda-canda segar nya saat itu; namun aku sekaligus ingin menumpahkan kebencianku kepadamu, di depan matamu, dan bukan dengan kata-kata untukmu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tapi aku menolak untuk berbicara langsung kepadamu.
Kamu tahu? Aku selalu diam-diam sedikit berharap kamu mengingat kata-kata yang kita pertukarkan satu tahun delapan bulan yang lalu itu. Bahwa setelah salah satu berubah pikiran, kita akan kembali begitu saja. Kenyataannya, selagi waktu mengalir, kamu lah yang berubah pikiran dan mulai memiliki beberapa kekasih sekaligus, seperti yang aku lakukan. Aku tetap diam selama ini, karena aku sadar betapa naïf nya pengharapan bahwa kamu masih akan menganggap perjanjian itu. Walaupun begitu, aku masih membiarkan sedikit harapan mengendap di pojokan, dan aku menunggu… satu tahun delapan bulan. Kekasihku itu mencoba menghiburku lewat layar chat, dengan menjadikannya bahan candaan. Dahulu, pernah ketika ia secara naïf menunggu seorang kekasih yang memintanya untuk menunggu; ia tetap menunggu orang itu selama satu setengah tahun. Ia berkata, bahkan sebodoh-bodohnya saya, saya nyadar dua bulan lebih cepet dari kamu. Ia sempat membuatku tersenyum. Tapi perasaanku masih terasa sungguh pahit. Dan kamu, kamu hanya bergumam-gumam kecil di sebelahku. Aku merasa dihianati, tertipu, dan aku benar-benar ingin membencimu!
Kamu berhasil membuat kita mengobrol sejenak mengenai apa yang kupikirkan, sebelum kamu terus mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain. Aku membenamkan kepala dalam bantal. Mataku secara sukarela mengalirkan air. Baru beberapa lama matahari terbit, dan kamu memutuskan untuk pergi.
Aku menghabiskan hari ini mengurung diri di tengah dinding-dinding merah kamarku, dengan lampu yang dimatikan. Aku menyalakan lagu keras-keras. Aku hanya ingin kebisingan, karena di tengah kebisingan lagu, erangan-eranganku tak akan terdengar. Aku tidak menginginkan ada sisa keheningan untuk berpikir. Dalam kebisingan yang intens, yang tersisa hanyalah emosi dan rasa.
Seperti yang kamu selalu tahu, kehilangan adalah kelemahanku yang terburuk.
Dan selagi kamu terus menerus membuatku terpuruk dengan melakukan permainan buka-tutup kepada lukaku, aku terus berharap aku bisa menghimpun kekuatan untuk membencimu. Bukankah dalam hidupmu yang kamu anggap permainan, aku hanyalah salah satu dari sekian permainan yang tersedia? Dan aku, sangat lemah dalam menerima hal itu.
Aku sempat berpikir untuk mencoba tidak menemuimu lagi, untuk waktu yang sangat-sangat lama. Ada rasa sakit dalam perasaanku, yang sungguh jauh lebih menyiksa dibandingkan sakit pada tubuh. Ia adalah sesuatu yang membuatku takut. Ia adalah bayangan pada cermin ditengah malam yang bercahaya minim, yang aku hindari. Ia menuntutku, untuk membalasmu.
Hari ini, dinding-dinding merah ini meredam suara dari kamarku yang dipenuhi dengan kebisingan dan berbagai ekspresi kegalauan yang agresif. Hingga aku tiba pada titik, dimana aku merasakan kebutuhan untuk mengkonfrontasi rasa kehilangan ini. Mungkin aku memang butuh untuk membencimu, tapi aku harus merangkul rasa sakit ini. Aku tidak ingin lagi dapat terjebak dalam perangkap menyakitkan yang sadar tidak sadar kamu ciptakan. Aku butuh untuk memahami seluk beluk diriku, dan lebih mampu untuk meresapi hidupku karenanya.
Zombie-zombie di luar sana, aku tahu mereka merasakan sakit,..namun bukankah mayoritas dari mereka memilih untuk menyangkalnya dan mengalihkannya kepada hal-hal delusional seperti posesi material, citra, agama, surga dan tuhan? Untukku sendiri, mereka yang tidak dapat memahami rasa bukanlah orang yang hidup. Dan orang yang menyangkal dan lari dari rasa sakitnya, tidak akan pernah memahami dirinya.
Sejujurnya, saat ini aku sangat ingin membencimu, tapi ada suara yang berkata di dalam diriku, bahwa mungkin suatu saat aku akan mengatakan terimakasih kepadamu untuk rasa sakit ini. Mungkin kemudian nanti, aku akan beranjak pergi dari kebutuhan untuk membencimu; orang yang sempat sangat-sangat aku sayangi.
I want to understand pain, in order to comprehend pleasure.
Without any understanding of one’s own feeling, there’s no point in living.
Selasa, 19 Mei 2009
Ripples of Action
“We shall never notice even how far the ripples of our most simple act will go.”
Awal maret tahun lalu, baik saya dan dia, tidak pernah berhasil menduga apa jadinya hasil dari keputusan kami untuk mempertahankan prinsip masing-masing—dimana akhirnya prinsip kami tidak bisa saling bertemu. Titik penentu, yang membawa perubahan besar dari garis keseharian kami secara keseluruhan. Perubahan bahkan ke setiap aspek terkecil dalam keseharian kami saat ini. Apapun yang kami mungkin duga; nampaknya yang terjadi pun luput dari imajinasi…perjalanan hasil yang bukan gemilang dan tidak juga tragis;--keseharian kami saat ini.
Saat momen saya dan dia itu terjadi, (seperti yang saya catat di jurnal saya tahun lalu) saya memiliki firasat yang meresahkan bahwa ini salah satu momen kecil penentu dalam hidup saya. Tapi tetap saja saya melanjutkan apa yang saya rasa ingin lakukan saat itu.
Dari melamunkan hal sederhana yang terjadi dalam perjalanan personal saya,…saya mulai melantur, mengkhayalkan, apa seperti firasat seperti itu juga muncul, ketika Adam dan Eve berada dalam titik penentu mereka; momen dimana mereka memutuskan untuk memakan Buah Pengetahuan (yang berakhir dengan disembunyikannya Pohon Kehidupan dari pandangan mereka)..?
Sebuah keputusan lugu, yang membuat mereka dan seluruh keturunannya terjebak di neraka yang mereka bangun perlahan, neraka dimana tempat mereka tinggal memanas, dimana makhluk-makhluk firdaus mati satu persatu.
Neraka dimana para keturunan mereka saling memperbudak dan terjebak di dalam sebuah sistem yang mempenjarakan keseluruhan dari bekas taman firdaus.
Sebuah neraka, dimana kita sedang membusuk dan bekerja, sekolah, dan mempekerjakan pekerja hari ini.
Momen yang sama juga terjadi ketika koloni kecil pemburu-peramu tiba di lengkungan subur Timur Tengah, dan menemukan bahwa mereka dapat menanam gandum; bahwa para sapi dan domba akan jinak kepada mereka sekedar dengan terus memberinya makan. Momen dimana mereka memilih untuk menempatkan makanan mereka dimana mereka menginginkannya; momen dimana koloni tersebut memutuskan menjadi petani dan penggembala; layaknya Cain dan Habil. Sama sekali mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa keturunan mereka akan melanjutkannya dengan menjadi masyarakat pengeksploitasi, masyarakat industri modern hari ini.
Saat kami berada dalam titik itu, baik saya dan dia masih dapat memundurkan keputusan kami, dan kembali ke pola harian kami yang semula.
Ternyata bahkan dalam sekedar satu tahun setelahnya pun terlalu terlambat untuk mundur. Terlalu banyak hal berubah dari keseharian kami hingga kami sama sekali tidak mungkin kembali.
Saya sadar saya sekedar bernostalgia saat ini.
Sebuah nostalgia, secara keseluruhan tidak bisa mempengaruhi hasil dari keputusan yang telah berlalu.
Namun nostalgia, refleksi ulang ke masa yang lalu ini, apa gunanya sekedar untuk menerima, berdamai dengan yang telah berlalu? Retrospeksi, introspeksi, dan bila ada (serta bisa), memperbaiki kesalahan (bila akhirnya saya simpulkan sebagai hal yang salah) yang telah dilakukan sebelumnya?
Bila memang seperti itu,… apa refleksi kepada perjalanan Eve-Adam, Cain-Habil yang sama sekali tidak bisa kita rubah itu, dapat menginspirasikan apa saja yang harus kita ubah untuk memperbaiki kesalahan yang terlakukan pada sepuluh ribu tahun silam.?
Andai saja refleksi ulang yang satu ini berada dalam tingkatan kompleksitas yang sama dengan kisah cinta, tentunya kita yang tersesat di neraka ini sudah menemukan jalan untuk membangun firdaus diatas reruntuhan neraka…
Awal maret tahun lalu, baik saya dan dia, tidak pernah berhasil menduga apa jadinya hasil dari keputusan kami untuk mempertahankan prinsip masing-masing—dimana akhirnya prinsip kami tidak bisa saling bertemu. Titik penentu, yang membawa perubahan besar dari garis keseharian kami secara keseluruhan. Perubahan bahkan ke setiap aspek terkecil dalam keseharian kami saat ini. Apapun yang kami mungkin duga; nampaknya yang terjadi pun luput dari imajinasi…perjalanan hasil yang bukan gemilang dan tidak juga tragis;--keseharian kami saat ini.
Saat momen saya dan dia itu terjadi, (seperti yang saya catat di jurnal saya tahun lalu) saya memiliki firasat yang meresahkan bahwa ini salah satu momen kecil penentu dalam hidup saya. Tapi tetap saja saya melanjutkan apa yang saya rasa ingin lakukan saat itu.
Dari melamunkan hal sederhana yang terjadi dalam perjalanan personal saya,…saya mulai melantur, mengkhayalkan, apa seperti firasat seperti itu juga muncul, ketika Adam dan Eve berada dalam titik penentu mereka; momen dimana mereka memutuskan untuk memakan Buah Pengetahuan (yang berakhir dengan disembunyikannya Pohon Kehidupan dari pandangan mereka)..?
Sebuah keputusan lugu, yang membuat mereka dan seluruh keturunannya terjebak di neraka yang mereka bangun perlahan, neraka dimana tempat mereka tinggal memanas, dimana makhluk-makhluk firdaus mati satu persatu.
Neraka dimana para keturunan mereka saling memperbudak dan terjebak di dalam sebuah sistem yang mempenjarakan keseluruhan dari bekas taman firdaus.
Sebuah neraka, dimana kita sedang membusuk dan bekerja, sekolah, dan mempekerjakan pekerja hari ini.
Momen yang sama juga terjadi ketika koloni kecil pemburu-peramu tiba di lengkungan subur Timur Tengah, dan menemukan bahwa mereka dapat menanam gandum; bahwa para sapi dan domba akan jinak kepada mereka sekedar dengan terus memberinya makan. Momen dimana mereka memilih untuk menempatkan makanan mereka dimana mereka menginginkannya; momen dimana koloni tersebut memutuskan menjadi petani dan penggembala; layaknya Cain dan Habil. Sama sekali mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa keturunan mereka akan melanjutkannya dengan menjadi masyarakat pengeksploitasi, masyarakat industri modern hari ini.
Saat kami berada dalam titik itu, baik saya dan dia masih dapat memundurkan keputusan kami, dan kembali ke pola harian kami yang semula.
Ternyata bahkan dalam sekedar satu tahun setelahnya pun terlalu terlambat untuk mundur. Terlalu banyak hal berubah dari keseharian kami hingga kami sama sekali tidak mungkin kembali.
Saya sadar saya sekedar bernostalgia saat ini.
Sebuah nostalgia, secara keseluruhan tidak bisa mempengaruhi hasil dari keputusan yang telah berlalu.
Namun nostalgia, refleksi ulang ke masa yang lalu ini, apa gunanya sekedar untuk menerima, berdamai dengan yang telah berlalu? Retrospeksi, introspeksi, dan bila ada (serta bisa), memperbaiki kesalahan (bila akhirnya saya simpulkan sebagai hal yang salah) yang telah dilakukan sebelumnya?
Bila memang seperti itu,… apa refleksi kepada perjalanan Eve-Adam, Cain-Habil yang sama sekali tidak bisa kita rubah itu, dapat menginspirasikan apa saja yang harus kita ubah untuk memperbaiki kesalahan yang terlakukan pada sepuluh ribu tahun silam.?
Andai saja refleksi ulang yang satu ini berada dalam tingkatan kompleksitas yang sama dengan kisah cinta, tentunya kita yang tersesat di neraka ini sudah menemukan jalan untuk membangun firdaus diatas reruntuhan neraka…
Sabtu, 01 November 2008
Menjamuri Psikologi
Bulan yang sama tahun yang berbeda,.tapi masih dengan deja vu yang serupa, akan paranoia yang terus berulang dengan monster-monster yang terus berganti.
Wujudnya terus berekspansi; mulai dari tokoh-tokoh fiksi hingga 'teman-teman' di dunia busuk ini. Menghantui mimpi-mimpi dan hari, dengan ketakutan yang paling permukaan hingga sudut yang paling mendalam. Rasa klasik akan hari-hari yang terus diseret dengan paksa terus berulang, dengan apologi dan penyangkalan akan mati yang sungguh masih serupa,..serupa banalnya hingga ia bahkan menjadi hantu yang baru.
Ah,..sungguh aku ini seorang penakut yang buruk.
Berulang kali meruap amarah dan semakin membenci hari, diri, dan dunia yang semakin nampak seperti ilusi. Alienasikah ini?
Kemarin-kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa semua ini memang sekedar ilusi...namun sungguh, apakah ada yang sebetulnya nyata? Keyakinan akan sesuatu tidak membuatnya menjadi bukan ilusi. Lompatan lompatan dari dongeng ke dongeng yang memabukkan, yang semakin saja membingungkan. Akankah datang lagi hari dimana semua orang nampak seperti robot-robot yang (lagi-lagi) menakutkan? Mayat-mayat hidup dengan tawa manis yang mekanis, derai tangis yang taktis..
Minat terus berganti seiring bergantinya bentuk teror kegalauan. Waktu kian meruntuh menjadi satu wujud lubang hitam yang menghisap kedalam kekosongan; pun minat akan kehidupan tidak terus berkembang. Seperti tanaman yang sendirian, ia justru semakin melayu.
Nyaris penghujung tahun; angka-angka penanggal yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada perkembangan yang signifikan dalam meramu obat demi mengatasi paronia ini.
Lagi-lagi merasa terusir dan kehilangan 'tempat' bernaung yang kini berwujud sekumpulan manusia. Betapa kini mendadak mereka nampak begitu alien dan menyesakkan.
Hari edukasi tipu yang bodoh dan membosankan.
Kemarin itu, datangnya hujan selama dua hari penuh dan terik mentari pada hari berikutnya, membangkitkan sedikit harapan temporer.
Jamur,----ya, jamur! Ia tentu akhirnya akan datang.
Jamur tawa, 'magic mushroom' yang sering disebut-sebut di kisah-kisah klasik itu,, seringkali pada waktu-waktu sebelumnya, ia membangunkan harapan.
Dan benar, datanglah ia ditengah kebosanan akut yang melanda. Bahkan tanpa perlu kutukar dengan nilai tukar produk peradaban yang bodoh itu. Ia datang dengan bebas dan gratis, lagi-lagi dari seorang temanku yang sangatlah baru.
Astaga,-aku sangat butuh mengusir biru!
Maka dengan bantuan sedikit bumbu ia mengisi perutku yang sama sekali tidak diisi makanan sejak hari sebelumnya.
Menit demi menit berlalu,..warna-warni di tellievisiie menari-nari semakin jadi. Tawa membahana dari film pada dvd. Dan jamur ini, sesuai reputasinya,..ia membuaskan imajinasi, warna warni fantasi, denting-denting irama geli yang menggila.... dan persis seperti spiral yang berputar semakin cepat, semua warna dan bunyi itu beradu dan menjadi semakin familiar. Rasa familiar yang saat itu justru aku ingin hindari. Ia menjelma menjadi sosok-sosok diri, manusia, dan hawa-hawa suasana yang memaksa untuk dihadapi.
Sialnya dengan jamur ini, ia selalu memaksa untuk tetap terbangun dan berhadapan dengan hantu-hantu mental yang ingin aku jauhi. Aku meringkuk dalam-dalam. Semua kata berhamburan di kepala. Jerit frustasi menggema di rongga kepala yang terasa seperti bola sepak yang hanya berisi udara. Fisikku menjelma menjadi sekedar bungkus. Sungguh, rasanya semakin nyata saat itu, aku, hanyalah aku. Sama sekali bukan tubuhku, sama sekali bukan imaji yang nampak dariku. Sosok tak berwujud yang mengambang dan terus berotasi dengan gerakan spiral kedalam. Seperti angin beliung mini. Sosok-sosok dan diri-diri yang menghantui ketakutanku memaksaku berkonfrontasi. Kekasih-kekasihku yang terasa semakin seperti imaji tanpa arti dari hari ke hari. Teman-temanku yang diam-diam kuanggap saudara, yang belakangan ini perlahan-lahan menjelma menjadi wujud hantu-hantu baru yang memancing paranoiaku. Kesepian makro yang terus merangsaki diri. Lingkungan yang robotic dan alien. Dunia yang begitu absurd dan menuju kehancurannya sendiri. Masyarakat utopis yang begitu jauh. Berbagai ilusi bodoh yang terus dipercaya orang-orang (yang juga terus mencoba memaksamu untuk ikut mempercayainya), dan perlahan seolah menjadi semakin nyata.
Aku menghabiskan setengah hari dalam kondisi mabuk jamur; - mabuk satu-satunya yang tidak memanipulasi emosimu, namun justru mengaduk-aduk psikologimu, dan membiarkanmu dalam keadaan tetap sadar, hingga kamu dapat mengingatnya.
Sudah malam ketika aku betul-betul dapat memegang kontrol otakku untuk dapat berbicara. Karena memang ketika menjamur, sungguh sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pun ia adalah seorang kekasih. Sangat asing rasanya ketika aku lalu menatap cermin di kamar mandi. Sungguh sulit dipercaya bahwa refleksi cermin itu memaksakan untuk menjadi sosok imaji akan diriku. Ia nampak begitu asing.
Tapi mengusir paranoid ini, menjamur terasa membantu. Rasanya seperti lega dan lebih jernih, seperti baru saja dicuci.
Lelehan hitam di sekitar mataku mengingatkan tadi rasanya aku memang dengan lebih lega dan jujur terus berganti-ganti tanpa pola; antara tangis, diam termangu, dan tertawa. Ekspresi yang terasa tidak hampa karena kejujurannya yang absolut.
Ketika mendapatkan sedikit energi dan kontrol fisik yang perlahan kembali, aku mencoba melakukan beberapa komunikasi (ya, yang termediasi). Meluruskan beberapa hal yang ikut menjadi sumber kembali mengakutnya fase paranoidku, dengan menepiskan keraguan yang kumiliki sebelum menjamur tadi, bahwa jawaban yang kudapat adalah konfirmasi bahwa ketakutanku merupakan kenyataan.
Disamping hasil konfirmasi bahwa ternyata ketakutanku adalah ilusi bukannya kenyataan, betul, jamur magis/ jamur meditasi/jamur khayal ini adalah substansi yang memicu badai psikologis. Tapi yah, badai tidak selalu berakhir dengan depresi yang baru :D hasil badai ini benar-benar mengalahkan antidepressan,--tipe apapun!
Wujudnya terus berekspansi; mulai dari tokoh-tokoh fiksi hingga 'teman-teman' di dunia busuk ini. Menghantui mimpi-mimpi dan hari, dengan ketakutan yang paling permukaan hingga sudut yang paling mendalam. Rasa klasik akan hari-hari yang terus diseret dengan paksa terus berulang, dengan apologi dan penyangkalan akan mati yang sungguh masih serupa,..serupa banalnya hingga ia bahkan menjadi hantu yang baru.
Ah,..sungguh aku ini seorang penakut yang buruk.
Berulang kali meruap amarah dan semakin membenci hari, diri, dan dunia yang semakin nampak seperti ilusi. Alienasikah ini?
Kemarin-kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa semua ini memang sekedar ilusi...namun sungguh, apakah ada yang sebetulnya nyata? Keyakinan akan sesuatu tidak membuatnya menjadi bukan ilusi. Lompatan lompatan dari dongeng ke dongeng yang memabukkan, yang semakin saja membingungkan. Akankah datang lagi hari dimana semua orang nampak seperti robot-robot yang (lagi-lagi) menakutkan? Mayat-mayat hidup dengan tawa manis yang mekanis, derai tangis yang taktis..
Minat terus berganti seiring bergantinya bentuk teror kegalauan. Waktu kian meruntuh menjadi satu wujud lubang hitam yang menghisap kedalam kekosongan; pun minat akan kehidupan tidak terus berkembang. Seperti tanaman yang sendirian, ia justru semakin melayu.
Nyaris penghujung tahun; angka-angka penanggal yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada perkembangan yang signifikan dalam meramu obat demi mengatasi paronia ini.
Lagi-lagi merasa terusir dan kehilangan 'tempat' bernaung yang kini berwujud sekumpulan manusia. Betapa kini mendadak mereka nampak begitu alien dan menyesakkan.
Hari edukasi tipu yang bodoh dan membosankan.
Kemarin itu, datangnya hujan selama dua hari penuh dan terik mentari pada hari berikutnya, membangkitkan sedikit harapan temporer.
Jamur,----ya, jamur! Ia tentu akhirnya akan datang.
Jamur tawa, 'magic mushroom' yang sering disebut-sebut di kisah-kisah klasik itu,, seringkali pada waktu-waktu sebelumnya, ia membangunkan harapan.
Dan benar, datanglah ia ditengah kebosanan akut yang melanda. Bahkan tanpa perlu kutukar dengan nilai tukar produk peradaban yang bodoh itu. Ia datang dengan bebas dan gratis, lagi-lagi dari seorang temanku yang sangatlah baru.
Astaga,-aku sangat butuh mengusir biru!
Maka dengan bantuan sedikit bumbu ia mengisi perutku yang sama sekali tidak diisi makanan sejak hari sebelumnya.
Menit demi menit berlalu,..warna-warni di tellievisiie menari-nari semakin jadi. Tawa membahana dari film pada dvd. Dan jamur ini, sesuai reputasinya,..ia membuaskan imajinasi, warna warni fantasi, denting-denting irama geli yang menggila.... dan persis seperti spiral yang berputar semakin cepat, semua warna dan bunyi itu beradu dan menjadi semakin familiar. Rasa familiar yang saat itu justru aku ingin hindari. Ia menjelma menjadi sosok-sosok diri, manusia, dan hawa-hawa suasana yang memaksa untuk dihadapi.
Sialnya dengan jamur ini, ia selalu memaksa untuk tetap terbangun dan berhadapan dengan hantu-hantu mental yang ingin aku jauhi. Aku meringkuk dalam-dalam. Semua kata berhamburan di kepala. Jerit frustasi menggema di rongga kepala yang terasa seperti bola sepak yang hanya berisi udara. Fisikku menjelma menjadi sekedar bungkus. Sungguh, rasanya semakin nyata saat itu, aku, hanyalah aku. Sama sekali bukan tubuhku, sama sekali bukan imaji yang nampak dariku. Sosok tak berwujud yang mengambang dan terus berotasi dengan gerakan spiral kedalam. Seperti angin beliung mini. Sosok-sosok dan diri-diri yang menghantui ketakutanku memaksaku berkonfrontasi. Kekasih-kekasihku yang terasa semakin seperti imaji tanpa arti dari hari ke hari. Teman-temanku yang diam-diam kuanggap saudara, yang belakangan ini perlahan-lahan menjelma menjadi wujud hantu-hantu baru yang memancing paranoiaku. Kesepian makro yang terus merangsaki diri. Lingkungan yang robotic dan alien. Dunia yang begitu absurd dan menuju kehancurannya sendiri. Masyarakat utopis yang begitu jauh. Berbagai ilusi bodoh yang terus dipercaya orang-orang (yang juga terus mencoba memaksamu untuk ikut mempercayainya), dan perlahan seolah menjadi semakin nyata.
Aku menghabiskan setengah hari dalam kondisi mabuk jamur; - mabuk satu-satunya yang tidak memanipulasi emosimu, namun justru mengaduk-aduk psikologimu, dan membiarkanmu dalam keadaan tetap sadar, hingga kamu dapat mengingatnya.
Sudah malam ketika aku betul-betul dapat memegang kontrol otakku untuk dapat berbicara. Karena memang ketika menjamur, sungguh sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pun ia adalah seorang kekasih. Sangat asing rasanya ketika aku lalu menatap cermin di kamar mandi. Sungguh sulit dipercaya bahwa refleksi cermin itu memaksakan untuk menjadi sosok imaji akan diriku. Ia nampak begitu asing.
Tapi mengusir paranoid ini, menjamur terasa membantu. Rasanya seperti lega dan lebih jernih, seperti baru saja dicuci.
Lelehan hitam di sekitar mataku mengingatkan tadi rasanya aku memang dengan lebih lega dan jujur terus berganti-ganti tanpa pola; antara tangis, diam termangu, dan tertawa. Ekspresi yang terasa tidak hampa karena kejujurannya yang absolut.
Ketika mendapatkan sedikit energi dan kontrol fisik yang perlahan kembali, aku mencoba melakukan beberapa komunikasi (ya, yang termediasi). Meluruskan beberapa hal yang ikut menjadi sumber kembali mengakutnya fase paranoidku, dengan menepiskan keraguan yang kumiliki sebelum menjamur tadi, bahwa jawaban yang kudapat adalah konfirmasi bahwa ketakutanku merupakan kenyataan.
Disamping hasil konfirmasi bahwa ternyata ketakutanku adalah ilusi bukannya kenyataan, betul, jamur magis/ jamur meditasi/jamur khayal ini adalah substansi yang memicu badai psikologis. Tapi yah, badai tidak selalu berakhir dengan depresi yang baru :D hasil badai ini benar-benar mengalahkan antidepressan,--tipe apapun!
Selasa, 04 Maret 2008
Whore living...
adalah keengganan untuk terus melacurkan hidup,,---
untuk melacurkan waktu dengan bekerja sbagai budak,,
untuk melacurkan ide kebebasan dengan patuh total tanpa bertanya,,
untuk melacurkan otakmu dengan terus mengkonsumsi gaya hidup,,
..untuk melacurkan hati dengan menerima begitu saja dimiliki oleh pasanganmu atas nama cinta,,.....
...
---yang membuat renyah deras hujan ini menjadi suram.
Di luar jendela hujan rintik deras.
Tangan dingin kebas,
ditemani penyair dalam bis ini yang terus merintih keras,,
....aku digerogoti hati yang jadi keras kering lemas.
Mata panas,,,
perih dingin pedas.
..........................................
untuk melacurkan waktu dengan bekerja sbagai budak,,
untuk melacurkan ide kebebasan dengan patuh total tanpa bertanya,,
untuk melacurkan otakmu dengan terus mengkonsumsi gaya hidup,,
..untuk melacurkan hati dengan menerima begitu saja dimiliki oleh pasanganmu atas nama cinta,,.....
...
---yang membuat renyah deras hujan ini menjadi suram.
Di luar jendela hujan rintik deras.
Tangan dingin kebas,
ditemani penyair dalam bis ini yang terus merintih keras,,
....aku digerogoti hati yang jadi keras kering lemas.
Mata panas,,,
perih dingin pedas.
..........................................
Sabtu, 01 Maret 2008
tyrant
Kebosanan adalah musuh. Dimana ketika ia datang hidup menjadi mati. dan segala semu. alasan-alasan untuk hidup menjadi omong kosong,,yang dipertanyakan dengan sinis yang Lemas.
Untuk mengalahkan kebosanan adalah strategi bertahan hidup;
untuk menghindari godaan simpul tali, monoksida, dan irisan dan genangan darah yang mengalir.
...Tatapan kosong itu.
Bosan adalah saat dimana cinta mati...
Dan hasrat jadi tak lebih dari busuk basa basi.
Untuk mengalahkan kebosanan adalah strategi bertahan hidup;
untuk menghindari godaan simpul tali, monoksida, dan irisan dan genangan darah yang mengalir.
...Tatapan kosong itu.
Bosan adalah saat dimana cinta mati...
Dan hasrat jadi tak lebih dari busuk basa basi.
die mijn fukkin free life
its the
ideology that binds me through.
minds that force me move.
comrades that stabs my eyes.
will which drains my blood sweat
fukkin unfallin tears
drains me.
the..
love that imprison me.
forcing the smile bursts out
forcing the kiss bitters out
forcing the skin touches dry
the
music that keeps me die...
the
dreams that shut me out...............
urban radiation that burns my eyes
leave me silent,,mindfucked,,,
choke back those gulps of.......
........
..........
....suffocating boredom of free...dom...
ideology that binds me through.
minds that force me move.
comrades that stabs my eyes.
will which drains my blood sweat
fukkin unfallin tears
drains me.
the..
love that imprison me.
forcing the smile bursts out
forcing the kiss bitters out
forcing the skin touches dry
the
music that keeps me die...
the
dreams that shut me out...............
urban radiation that burns my eyes
leave me silent,,mindfucked,,,
choke back those gulps of.......
........
..........
....suffocating boredom of free...dom...
Langganan:
Postingan (Atom)