Kamis, 22 Oktober 2009

Mengapa aku tidak tertarik kepada Islam dan Bisnis.


Why did you give me

So much desire?
When there is nowhere I can go
To offload this desire
And why did you give me
So much love
In a loveless world..
(Morissey – I have forgiven Jesus)


( Mecca, Januari 2009 )
Pada langit cerah diatasku, burung-burung hitam mengepakkan sayapnya dalam gerombolan. Masih menengadah, kupikir, aku tidak tahu burung-burung apa itu. Entah bagian mana dari kota yang konon sakral ini yang mereka huni. Apakah dibalik mesin-mesin kontruksi yang besar, tinggi menjulang, yang berada di balik mesjid besar ini; atau di atap hotel-hotel bintang lima dengan biaya menginap yang sangat-sangat tinggi yang berada di belakang mesin-mesin itu? Atau mungkin mereka sekedar membuat sarang diantara gundukan tanah yang membentuk bukit; gundukan tanah hasil pengerukan rumah-rumah yang digusur untuk membangun pusat perbelanjaan megah dan hotel-hotel mewah yang mengelilingi mesjid besar ini. Aku mengerutkan kening. Gundukan tanah itu tidak rapih. Ia masih berbentuk tumpukan rumah hancur, dan di sela-selanya masih berbentuk rumah yang rusak; haha, dan aku bahkan bisa melihat masih ada orang-orang yang hidup di dalam rumah rusak itu.
Sementara itu, di hadapanku, terdapat ratus-ribu orang berbaju hitam atau putih. Mereka sedang bersujud menghadap sebuah bangunan berbentuk kotak, yang diselubungi kain berwarna hitam.

Aku sendiri sedang duduk di tangga, bersembunyi dari ayahku yang sedang ikut bersujud massal. Beruntung untukku, jarak dari jamaah laki-laki dan perempuan cukup jauh, hingga aku bisa bersembunyi dari ayahku, melamun di tangga, sementara ia dan ratusan ribu ini sedang melakukan ritual mereka. Ia tentu mengira aku juga ikut bergabung dalam ritual ini.
Aku sama sekali tidak tertarik untuk mendatangi tempat ini. Bulan ini, aku berharap hanya harus mengunjungi ayahku untuk berbasa-basi dengan lingkungan kerja barunya. Ia baru saja dipindahkan ke Arab Saudi, sebagai promosi dari pekerjaannya. Dari sekian pilhan negara yang tersedia bagi pekerjaannya, entah kenapa ia harus tinggal selama empat tahun kedepan, di negara yang sama sekali tidak menarik bagiku. Karena ia selalu menginginkan efisiensi waktu dan uang, maka tentu saja ia tidak puas bila kami tidak sekalian mengunjungi kota ini.
Aku banyak mendengarkan dongeng mengenai betapa sakralnya kota ini.
Mecca.
Tempat dimana orang berdosa akan celaka. Tempat dimana hanya muslim yang dapat memasukinya. Kafir akan disesatkan, dan akan mengalami petaka. Konon, kota ini adalah tempat orang-orang melakukan ibadah mereka dengan khusyuk, tulus, penuh pengorbanan dan niat suci.

Ha.
Pada langkah pertama yang kupijakkan di kota ini, aku langsung menyadari kekonyolanku pada masa kecil. Aku adalah seorang kafir, yang sangat senang melakukan hal-hal yang mereka anggap dosa, dan aku baik-baik saja. Aku sama sekali tidak kesulitan menemukan jalan pulang ke hotel dimana kami menginap. Dari jejeran mall-mall besar, untuk menemukan hotel itu, aku hanya perlu melewati gerombolan pengunjung yang tidur/menginap di lantai halaman mesjid besar ini karena mereka tidak mampu menginap di hotel-hotel besar yang ada disana. Aku tidak tersasar, dan tidak ada kekuatan ajaib yang mencelakaiku.
Ini adalah kota suci yang aneh. Sewaktu kecil, aku tidak akan pernah menyangka bahwa bukan seberapa-rajinkah-kamu-beribadah lah yang akan menyelamatkanmu disini. Ternyata, seperti hal nya tempat-tempat pariwisata dengan jumlah pengunjung tinggi setiap harinya, yang kamu butuhkan hanya uang, uang yang sangat banyak, dan kamu akan selamat. Hei, dan konon bila kau sering datang, kau bahkan akan masuk surga. Konon, setiap kamu shalat di mesjid ini, valhalla yang kau dapatkan adalah beratus kali lipat dari mereka yang shalat di mesjid di bagian dunia lain yang tidak sakral. Karena itu, hasilkan uang semakin banyak, sering-seringlah shalat di titik-titik dimana valhalla yang dihasilkan sangat besar, dan hidupmu akan selamat—dunia dan akhirat.


Aku menatap menerawang ke langit.
Lampu neon logotype Meridien dan Hilton menyala terang disamping bulan sabit yang cantik.
Mereka yang tengah ditangkapi karena tidak menginginkan lingkungan mereka hidup dirusak oleh Semen Gresik di Sukolilo, atau di Medan sana; entah apakah mereka akan pernah mampu membeli tiket ke surga ini. Sementara keseharian mereka menyerupai neraka.

Islam, yang kupelajari dari semua muslim yang pernah kutemui dalam hidupku sejauh ini, dijalankan dengan hitungan dagang. Serupa bisnis. Sepanjang kamu pintar-pintar menjauhi yang dilarang, dan terus melakukan hal yang disuruh agar kamu dapat menabung valhalla, kamu akan masuk surga.
Sama sekali tidak ada masalah apabila setiap hal yang menguntungkanmu pada tiap harinya, merupakan kerugian bagi pihak yang lain. Meskipun kau bekerja untuk mengembangkan perusahaan yang menghancurkan kehidupan banyak orang. Meskipun kau tidak pernah memperdulikan apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Meskipun untuk gaji besar dalam pekerjaanmu, berarti banyak orang tidak memiliki uang untuk membeli pangan. Meskipun untuk hotel megah dimana kamu menginap, dan pusat-pusat perbelanjaan dimana kamu memuaskan hasratmu mengonsumsi, pasti ada orang-orang yang harus diusir dari rumahnya. Meskipun kau membiarkan sumber-sumber berita yang membentuk opinimu dipenuhi bualan, omong kosong yang hanya menguntungkan para pemiliknya: para penguasa dan saudagar besar. Meskipun setiap harinya, kamu berpura-pura tidak sedang hidup dalam posisi yang membiarkan sistem ekonomi yang menagih darah dan nyawa setiap detiknya ini terus berlangsung. Pintar-pintar menabung valhalla, menjalani yang diwajibkan, dan menjauhi dosa. Cukup itu saja.

Di depan Ka’bah itu aku meringkuk dan memejamkan mata.
Aku tidak mau spiritualitas seperti ini. Aku tidak butuh kota suci yang dipenuhi oleh saudagar serakah yang sibuk meraup untung dari gerombolan mereka yang haus valhalla.

Aku membenci negara ini; Arab Saudi. Negara yang menjadi kiblat orang-orang religius di tempat aku hidup, Nusantara. Kiblat semacam ini. Tempat dimana perempuan dilarang melakukan nyaris semua hal diluar rumah tangga mereka. Dan kau bisa menemukan rumah keluarga Saud dimana-mana. Seperti istana, rumah-rumah itu megah, luas, bertembok besar dan berpenjaga. Pada sisi lain kota, para pekerja imigran bergaji rendah berjejalan dalam angkutan umum yang berkendara diatas jalanan yang cantik dan bersih.
Ayahku sering bercerita, bahwa dalam pekerjaannya, ia seringkali shock melihat hal-hal yang dilakukan orang-orang disini. Ia harus ikut mengurusi pengadilan tenaga-tenaga kerja yang disetrika, dipukuli, dibunuh secara sadis (berdasarkan hasil forensik yang dilakukan terhadap mayatnya) oleh kepala keluarga setempat, atau bahkan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Bagaimana seorang yang sangat kaya tetap tidak mau menggaji seseorang yang telah bekerja kepadanya selama puluhan tahun. Dan bagaimana passport orang-orang malang ini ditahan oleh majikannya, hingga mereka tidak dapat/sulit kabur. Ayahku juga sering bercerita tentang pekerjaannya yang dipersulit oleh pemerintah Arab Saudi yang sangat melindungi warganya, sehingga seringkali psikopat-psikopat ini lepas tanpa mendapat hukuman.

Dengan kiblat semacam itu, seharusnya aku tidak lagi heran mengapa di Nusantara tempatku tinggal, mereka memelihara gerombolan preman psikopat semacam FPI dan FBR. Atau mendukung partai yang mendanai gerombolan tukang pukul yang menamakan dirinya pembela kebenaran tersebut. Para pembela kebenaran yang senang memukuli dan mengacak-acak rumah seseorang yang membuka warung makannya pada saat bulan puasa, karena dianggap tidak menghargai bulan (yang lagi-lagi) suci tersebut. Meskipun warung tersebut kecil, orang itu miskin, dan entah makan apa yang mampu dibeli orang itu saat magrib bila ia tidak berjualan hari itu.


####


Mengapa aku tidak tertarik pada Islam (setidaknya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingku), bukan sekedar karena itu. Dua minggu yang kuhabiskan di negara itu hanya menguatkan ketidaktertarikanku terhadapnya. Sebagian karena ibuku yang memaksaku untuk berpura-pura menjadi orang yang religius selama kurang lebih 18 tahun, dengan ancaman usiran dari rumah, berhentinya sokongan keuangan, dan tidak lagi dianggapnya aku sebagai anak apabila paksaan itu kutolak. Tahun-tahun yang kulewati di SD, SMP, dan SMA cukup untuk membuatku muak dengan kekangan mutlak yang ia paksakan. Beruntung untukku, sekitar dua tahun lalu aku menyudahi semua itu. Namun seperti layaknya orang yang muak dengan ruang tertutup setelah dipenjara selama 18 tahun, aku sungguh mati rasa dengan hal-hal yang berbau religius. Sebagian lagi, karena spiritualitas yang dijalani oleh teman-teman dan keluargaku yang muslim, yang tidak kuanggap sebagai spiritualitas yang kuinginkan.
Tapi aku tidak mengatakan bahwa aku tidak tertarik dengan semua muslim. Aku hanya ingin menjauh dari mereka yang memperlakukan spiritualitas mereka seperti mereka melakukan manajemen bisnis dan keuangan harian mereka.

Tadi malam, aku sempat menyinggung hal ini ketika mengobrol dengan Def, kekasih yang tinggal bersamaku. Ia sedang bercerita bahwa saat masih kecil, ia sempat mengalami insomnia selama berbulan-bulan. Karena itu, setiap tengah malam ia akan terbangun di ranjangnya dengan mata tertutup, gelisah dan berusaha untuk tidur karena tubuhnya lelah, namun tidak bisa. Ia berkata, seringkali ia terharu ketika pada tengah malam itu, ia mendengar ayahnya yang sedang berdoa dalam shalat tahajudnya. Terutama ketika ayahnya mendoakan harapan-harapan yang begitu manis. Hal-hal yang tidak pernah dikatakan oleh sang ayah dengan melankolis dan tulus seperti itu kepada Def sendiri. Kami membicarakan Doa. Hingga kami tiba pada kesimpulan, bahwa doa yang tulus tetaplah merupakan hal yang manis. Terutama ketika itu ditujukan bagi orang lain. Ia adalah harapan-harapan agar hal-hal baik terjadi, yang di afirmasikan secara fokus/khusyuk kepada sebuah mediasi tak kasat mata yang ada di benak. Menurut kami yang terpenting adalah, harapan-harapan itu tersampaikan, justru kepada diri sendiri. Untuk terus mengingat, hingga tiba harapan dan ingatan itu pada bawah sadar. Hingga kadang, keputusan-keputusan kita setiap harinya, dipengaruhi oleh harapan yang telah terpendam di bawah sadar tersebut.
Shalat yang tidak mengingat pahala dan kewajiban pun mengingatkan kami terhadap meditasi. Seperti halnya meditasi-meditasi pada beberapa agama lain, misalnya Buddha, ia dilakukan dalam posisi-posisi yang mendukung proses meditasi tersebut. Berdiri, rukuk dan sujud pada Islam yang meregangkan tubuh. Posisi sila yang tidak menghambat peredaran darah pada Buddha. Mengeluarkan bunyi-bunyian yang mendukung proses pemusatan pikiran kepada hal-hal diluar keseharian dunia. Doa-doa pada awal shalat. Suara ambiens yang harus dikeluarkan pada meditasi Buddha. Kesimpulan kami, Shalat adalah meditasi. Apabila seseorang dapat memusatkan pikirannya pada hal-hal diluar dirinya tersebut (masing-masing agama memiliki medium), misalnya tuhan, atau kekosongan, atau rasa; ia kemungkinan dapat mencapai titik ekstase, orgasme spiritual dimana hanya rasa tanpa kata yang tersisa darinya.
Dengan kata lain, dari sudut pandang itu, aku sama sekali tidak bermasalah dengan agama apapun. Menurutku proses spiritualitas seseorang baik untuk kesehariannya sendiri. Dan berarti agama bagiku hanya merupakan satu dari begitu banyak pilihan untuk menjalani proses spiritualitas. Ada yang memilih dengan mabuk, dengan meditasi stoik, atau meditasi kebisingan, meditasi keheningan, dan ada yang memilih meditasi dengan yoga atau shalat. Itu tinggal perkara selera. Kami juga membicarakan mengenai nabi.
Apakah bedanya nabi dan filsuf? Nietzsche dan Muhammad? Bila kamu menjawab bahwa perbedaannya terletak pada mukjizat dan wahyu; maka jawaban dari percakapan kami kemarin adalah perbedaan dari Nabi dan Filsuf terletak pada sejauh apa orang-orang di sekeliling mereka mempercayai omongannya. Apalah bedanya Muhammad yang pergi menyendiri untuk mendapatkan wahyu, dengan Nietzsche yang menyendiri untuk mendapatkan ide. Nabi dan Filsuf adalah para pemikir yang memiliki pemikiran mengenai “bagaimana sebenarnya kita harus memandang hidup”; dan itulah isi dari kitab mereka. Cara untuk memandang dan menjalani hidup menurut mereka; dalam Qur’an, dalam Thus Spoke Zarathustra, dalam Injil. Untukku, Agama adalah filsafat yang dipenuhi dengan kisah mukjizat dan keajaiban.

Yang aku benci adalah cara praktek agama yang mengamini kekuasaan kapital, serta memaksakan kebenaran yang mereka percayai kepada orang lain, dengan cara apapun. Pada titik itu, itu bukanlah lagi spiritualitas personal yang berada diluar pemikiran keseharian. Ia sangatlah banal, memuakkan, dan hanya mengamini pembentukan neraka bagi orang lain; demi membangun kondisi yang menyenangkan bagi mereka. Agama yang se-egois itu untukku adalah hal yang munafik, basa basi dan pengecut. Tidak ada sama sekali hal yang menarik dari melakukan sesuatu hanya karena kamu disuruh melakukannya, karena kamu menghindari hukuman bila tidak melakukannya, dan mengharapkan imbalan karenanya.
Agama seperti itu, hanya berpura-pura mencintai cinta dan kebebasan.
Karena yang mereka lakukan hanyalah menghidupi kebohongan dan pembenaran, agar mereka tetap dapat melakukan hal-hal memuakkan yang mereka lakukan dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Tidak ada cinta di dalamnya.
Dan itulah mengapa aku membenci agama semacam itu, dan mengapa aku muak kepada bisnis perdagangan nyawa dalam sistem ekonomi kapitalisme yang terus mereka elu-elukan.

Agama seperti itulah yang kukira disebut Marx sebagai candu yang hanya berfungsi sebagai pengontrol agar mereka yang tertindas tidak mengamuk, dan agar mereka yang serakah dan mengambil keuntungan dari penindasan dapat merasa lebih baik dan 'suci'.


Selasa, 20 Oktober 2009

Pagi pertama setelah sekian lama.


Carpe nocto.


Diatas tulisan itu, terdapat gambar mata horus; lambang dewa bulan pada mitos Mesir kuno. Dua hal itu adalah tato pertamaku, yang keinginan untuk membuatnya datang secara impulsif. Pada awal Mei tahun 2008 lalu, aku meminta seorang teman yang baru saja kukenal pada tanggal satu, untuk merajahkannya padaku. Saat itu kondisi perasaanku sedang kacau, dan aku tidak benar-benar memilih gambarnya. Waktu itu, mirip dengan banyak waktu setelahnya, yang aku inginkan hanya rasa sakit fisik untuk mengalihkan pikiranku.
Kekasihku pada saat itu mengatakan, bagian belakang leher adalah tempat dimana ia merasa sangat sakit untuk meletakkan tato. Maka kupilih tempat itu begitu saja.

Beberapa malam sesudahnya, aku menenggelamkan diri dalam rentetan alkohol bercampur obat-obatan psikiatri bersama kekasihku saat itu, yang memang terbiasa menghabiskan setiap harinya dengan cara seperti itu. Beberapa malam sesudahnya, aku mulai batuk tanpa henti hingga setahun kemudian, ketika aku menyadari bahwa semenjak malam itu aku mulai mengidap bronkhitis. Dan terutama semenjak malam-malam itu, aku nyaris tidak pernah bisa bangun pagi sama sekali. Bila aku menyapa pagi, biasanya itu berarti aku memang belum tidur sama sekali.

Carpe nocto, 'seize the night'; dan aku memang jadi melupa hari dan mata ra - tanpa kusengaja hidupku berjalan sepenuhnya ketika matahari telah terbenam dan hari berwarna kelam.
Pagi ini adalah pagi pertama dimana aku bangun begitu saja, tanpa perasaan masih mengantuk, walaupun sial untukku, karena terbangun dari mimpi yang begitu buruk. Dan walaupun dalam mimpi itu masih ada orang yang kuceritakan nyaris sebulan lalu, ternyata hal-hal yang kutemukan kemarin malam dan pagi ini masih tetap membangunkanku dari tidur panjang yang murung selama sangat banyak bulan.


Aku telah membahas ini beberapa kali dengan kekasih dan temanku hingga terkadang bosan. Kebanyakan dari kita, memang sulit menghadapi kehilangan. Penyesalan, penerimaan rasa sakit, kerelaan untuk melepas memori-memori yang sudah semakin usang.. Untuk kebanyakan dari kita, tetap sulit untuk berhenti melihat kebelakang dan menatap kedepan.


Kemarin, terutama yang membangunkanku dari 'tidur' yang sangat panjang ini adalah sebuah kasus di Kulon Progo; supaya lebih jelas, mungkin lebih baik aku bercerita secara singkat mengenai mereka, dan mengapa mereka berpengaruh dalam merubah kecenderungan mentalku yang muram.

Kulon progo, adalah tempat dimana petani-petani berhasil secara kolektif dan otodidak, menyuburkan lahan yang begitu tanpa harapan dimana mereka hidup. Tanah pesisir pantai, dimana sebelumnya, penanaman tanaman-tanaman pangan pada lahan seperti itu tentunya adalah hal yang mustahil. Namun mereka, setelah berusaha selama puluhan tahun, berhasil mengubah lahan gersang itu menjadi lahan dimana mereka dapat hidup. Aku mengagumi mereka karena semangat hidup yang tinggi, bahkan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Mereka dapat mengubah pasir menjadi lahan subur dimana mereka dapat hidup hanya dengan perangkat sederhana, tanpa modifikasi biologis yang merusak.
Hingga beberapa bulan lalu, Sultan, yang berkuasa di wilayah Jogja, bersama sebuah korporasi baru, menemukan potensi profit dalam kandungan besi yang terdapat dalam pasir pesisir tersebut. Dan tentu saja, korporasi dengan dukungan Sultan tersebut merasa memiliki hak untuk begitu saja menggusur petani-petani gigih itu, dari tempat dimana mereka telah berusaha untuk bertahan hidup selama puluhan tahun.
Dan yang tambah membuatku kagum, masyarakat petani disana begitu kuat. Mereka tidak begitu saja menunduk patuh (atau lebih absurd, menerimanya sebagai 'takdir' yang harus mereka jalani). Mereka menentang, dan mereka berusaha mempertahankan lahannya.

Dari sudut pandang sinis, tentu saja akan muncul kata-kata klise seperti: ya tentu saja, apa yang kamu harapkan dari korporasi dan pemerintah? Para korporat adalah para raja yang sebenarnya pada zaman ini, dan agen-agen pemerintah hanyalah para pendukung mereka, yang memberikan jalan seluas-luasnya untuk perdagangan diatas eksploitasi yang mereka lakukan.

Baiklah, tentu saja itu adalah gambaran logisnya. Namun apa yang akan kita lakukan selain berpendapat dengan kesal?

Pertanyaan itu terutama muncul kemarin siang, ketika datang berita bahwa para petani yang sedang berdemonstrasi itu ditembaki, disemprot gas air mata bertekanan tinggi, dan dilempari bom asap; aku terhenyak. Hal ini bukanlah hal yang baru, tapi mungkin karena aku telah sempat mengagumi mereka sebelumnya, ini memancing rasa gusarku. (Memang salahku sendiri karena tidak terlalu up-date dalam hal kabar kasus-kasus pemerintah & korporasi vs masyarakat di Takalar, Sumatra, Gresik, dan lain-lain.)
Hal ini, memancing pertanyaan untuk sebuah respon.
Karena itu malam kemarin, secara spontan aku pergi ke bandung untuk mengobrol dengan teman-temanku mengenai hal ini. Mengenai kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kita bereaksi terhadap hal-hal menyebalkan seperti ini.

Hal itu, ditambah dengan obrolan-obrolan dalam topik 'kehilangan' yang kulakukan sebelumnya, ternyata masih tetap menjadi tamparan agar aku terbangun.

Sudah cukup rasanya, satu bulan tambahan dari jumlah bulan yang kuhabiskan untuk gusar, merasa sakit dan kesal. Untuk melakukan komunikasi dengan orang yang berbagi banyak kenangan intens denganku itu, sebelum dan sesudah ia membaca tulisanku tentangnya. Aku mengatakan banyak hal dengan maksud memastikan berhentinya komunikasi kita; hal-hal menyebalkan yang sepenuhnya tolol dan asal, dan hal-hal yang sepenuhnya jujur. Mencoba melihat kearah lain. Meskipun ia bersikeras untuk bertemu. Meskipun ia tetap mengusik, bahkan dalam mimpiku malam tadi.


Ada hal-hal yang jauh lebih menarik dan urgent di depan, setidaknya begitu yang aku pikir beberapa hari ini.
Ada proses untuk menerima kehilangan, dan ada kekuatan yang muncul karena pemahaman mengenai rasa sakit. Ada pelajaran-pelajaran yang tidak bisa kita sekedar dapatkan dari sekedar membaca dan menonton; pelajaran-pelajaran yang kita pahami dari pengalaman dan waktu yang berlalu.

Dan seperti yang kukatakan kepada dua kekasihku (ya, sekarang dua sungguh sangat melebihi cukup untukku :) karena kali ini, aku hanya berhubungan dengan mereka yang benar-benar membuatku jatuh cinta) beberapa hari ke belakang. Aku benar-benar ingin memulai hari dengan ceria.
Seperti rasa sakit pada tubuh, pada mental pun aku ingin mengalami kelegaan tertentu yang hanya akan muncul setelah rentetan rasa sakit. Rasa ringan yang bukan karena naif dan tanpa luka; namun justru karena telah dipenuhi luka.


Despair, persona yang tertutup memang mampu memikat seseorang untuk terjebak dalam masa yang begitu lama.
Tapi mungkin ini waktunya berganti 'genre' cerita, haha.
Dan disamping Carpe Nocto akan kutambahkan Carpe Diem (seize the day); meskipun nampaknya yang terakhir tidak perlu kutegaskan dengan menambah tato 'Carpe Diem' di bagian tubuh yang lain. :P


Hidup ini, adalah bagaimana kita menyikapi situasi di sekeliling kita, dan yang terjadi pada kita.
Tanpa kecuali masalah-masalah penindasan legal seperti di Kulon Progo, tanpa kecuali masalah-masalah personal seperti masalah rasa.


...
Ahaha, Pagi pertama setelah sekian lama. :D

Jumat, 25 September 2009

Merengkuh Sakit.


Yang paling aku inginkan saat ini adalah kebisingan absolut…yang menyenangkan dan indah. Yang menyelimuti, mencakupi, dan menutupi segala kesakitan, kegagalan, serta kesia-siaan kata-kata.

Dinding-dinding merah berlumut yang berhiaskan corat-coret galau berwarna hitam, lantai keramik dingin berwarna putih yang tertutup oleh baju dan dokumen yang berserakan, tumpukan gelas kotor yang diletakkan di sudut tangga… sudah nyaris dua tahun, kamarku ini menemaniku saat tinggal bersamamu, sekaligus menjadi sandaranku tiap saat kamu memutuskan untuk pergi dari sini.
Matahari pagi ini terasa menyilaukan. Mungkin karena mataku tengah menyipit dan sembab.
Semua ini; kelelahan akibat menangis, malam tanpa tidur, pertukaran kata yang sedikit namun sangat menyakitkan, berbagai lebam, luka bakar, dan luka gigitan yang masih segar di tubuh kita masing-masing... serta aku yang memohonmu untuk memberikan peluk terakhir… sungguh serupa dengan pagi hari di kamar yang kau sewa di setiabudhi, pada tanggal tiga maret tahun lalu. Namun saat itu, kamu masih lembut dan bersedia memeluk hangat. Saat itu, kita masih seperti dua bocah yang nyaris tak pernah bisa terpisah lama-lama. Dan saat itu, kita tengah membulatkan tekad untuk mengambil pilihan masing-masing, sekaligus menjanjikan konsekuensinya: kita akan berpisah sementara, hingga salah satu dari kita berubah pikiran dan berpindah pilihan.

Sudah satu tahun delapan bulan semenjak hari itu, dan begitu banyak sakit hati yang telah kita pertukarkan. Hubungan kita tereduksi akibat intensitas bertemu yang berkurang drastis, hal-hal baru yang kita masing-masing coba, dan keintiman emosional yang berfluktuasi tanpa pola. Hingga bulan-bulan lalu, aku telah cukup berhasil untuk mencoba menerima, bahwa nyaris tidak ada yang tersisa dari kita. Walaupun memang terkadang, bila murung; aku menyalahkanmu secara subjektif, dan menuduhmu meninggalkanku, meskipun kamu telah begitu akrab dengan tendensi-tendensi psikologisku yang konyol. Kepergianmu, sesungguhnya merupakan salah satu dari sekian penyebab guratan-guratan luka yang sempat kuletakkan di tubuhku, sekaligus pemicu keintimanku dengan inferioritasku yang sebelumnya kukurung sangat rapi.

Bulan-bulan terakhir ketika wujudmu mulai hadir lagi dalam keseharianku, segala simptom ‘despair’ itu telah memupus dari pikiranku. Aku kini mulai dapat menemukan kembali kesenangan dalam eksplorasi-eksplorasi sederhana seperti menggambar, menerjemah, menulis, serta menambah varian dalam eksplorasi seks dengan kekasih-kekasihku.
Entah kenapa pada saat ketika aku mulai mencoba menyegarkan diriku inilah, kamu mendekat. Kita mulai iseng menyempatkan waktu untuk menginap, sekedar bertukar cerita tentang kekasih masing-masing, kegelisahan-kegelisahan harian, dan menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah kita lakukan dengan penuh keyakinan. Terkadang, bila situasi cukup menyenangkan, secara alami kita mengalir kedalam permainan seks yang telah berkembang dan berbeda dari permainan kita dulu. Aku ingat beberapa minggu lalu, aku merebahkan kepala di dadamu yang telanjang, di tengah pelukanmu yang khas, sambil tersenyum mendengarkan cerita lucumu tentang pasangan terakhirmu. Saat itu aku berpikir, betapa aku merindukan kamu dan cerita-ceritamu, suasana kita yang seperti ini. Tawamu yang riang dan celotehmu yang cepat dan ceria, matamu yang berkilau-kilau dan menyipit ketika sedang menceritakan hal yang kamu senangi.

Malam kemarin, kamu datang ke kosanku untuk sekedar bermain dan mengunjungi kami bertiga; aku, seorang mantan pasanganku, dan kekasihku. Kau bahkan sudah cukup akrab dengan mereka, untuk bisa bertukar cerita dengan santai dan bersemangat, seperti yang biasanya kamu lakukan. Kamu juga membawakan makanan masakan ibumu untuk kami makan, karena persediaan makan kami sudah habis. Ketika kekasihku dan mantanku memutuskan untuk pergi ke Bandung, dan aku memilih untuk tinggal di kamar karena masih merasa malas dan lelah… aku sebenarnya sama sekali tidak berharap ada hal spesial apapun yang kita lakukan.
Sesuai ekspektasiku, setelah hanya kita berdua yang berada di kamar; aku bermalas-malasan di depan komputer, dan kamu menonton dvd di sebelahku. Kita bahkan tidak berbincang, dan kita sama-sama tahu bahwa aku menginginkanmu disitu hanya karena aku sedang tidak ingin sendiri, dan kamu pun sedang tidak memiliki rencana lain.
Dalam keheningan yang nyaman dan hanya diisi oleh suara film dari speaker, desing mesin komputerku, serta suhu yang panas di dalam kamar… terpikir olehku, bahwa aku ingin mencicil isi tulisan untuk zine yang hendak kususun. Maka aku mengajakmu pergi jalan-jalan keluar untuk menyisir jalanan jatinangor yang masih sepi paska lebaran, sekedar untuk mencari udara segar dan membeli arak, aku berpikir, minum sedikit, tidak perlu sampai mabuk, akan cukup menyenangkan untuk menemaniku menulis dan menonton film bersamamu, sebelum kita akan tertidur pulas.
Akhirnya kita berdua melompat dan berdiri, mencoba untuk lebih bersemangat; kemudian kita berpapasan sejenak dengan cermin panjang yang telah kumiliki semenjak masa awal aku menyewa kamar ini untuk tinggal bersamamu, ketika aku hendak memulai kuliah dua tahun yang lalu.
Kita tersenyum dan saling membandingkan tinggi kita yang sedikit berubah sambil menatap cermin itu. Lalu kita saling menoleh… aku bertanya iseng-iseng, saya gigit kamu ya? Dan kamu menjawab, coba aja. Aku menggigitmu pelan di bagian bawah belikatmu, dan secara berangsur mengeraskan gigitanku. Kamu mengerang. Ini berlangsung beberapa lama, hingga aku tertawa, hendak melepaskan gigitanku dan mengambil sepatu, namun kamu justru menahan tubuhku hingga tidak dapat bergerak. Kamu menatapku lekat. Pipimu kemerahan. Pola ini, sungguh familiar bagiku. Aku kurang lebih tahu, apa yang tengah kamu inginkan… maka aku menyeringai, dan menggigit lehermu. Selagi aku menggigit lehermu, kamu membalas dengan gigitan-gigitan kecil di leherku, dan diselingi jilatan-jilatan pada daun telinga dengan tempo yang semakin intens.
Kita memang telah melakukan ini pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, maka percampuran menyenangkan antara stimulasi rasa sakit dan rangsangan seksual ini tidak asing bagiku. Lagipula, aku dan kekasih-kekasihku memang sedang mengeksplorasi ruang yang serupa. Kemudian, kamu menciumku perlahan, dan berangsur mendalam. Tanganmu bergerak naik ke leherku. Kamu mencekikku semakin keras, dan menciumku semakin dalam. Kita saling bergumam, di sela-sela cium yang berkelanjutan, tentang pergi keluar untuk membeli arak, namun kita terus melanjutkan apa yang sedang kita lakukan. Lalu seperti sebelumnya, kita mengalir kedalam permainan seks yang berisi rangsangan rasa sakit, seperti mencubit, menggigit keras, mencakar, mencekik dan mencium dalam waktu yang sama. Permainan yang intens dimana kita bahkan tidak perlu saling bertukar kata. Kita hanya bertukar tatapan dan stimulasi indra. Selama waktu yang cukup lama. Kata yang sempat kukatakan sekilas hanyalah, kamu sungguh semakin berkembang.

Ketika kita selesai, kamu merebahkan kepalamu di pangkuanku, selagi kita mengatur nafas. Kamu mendongak, kita saling bercanda… dan ketika aku lengah, kamu menamparku sangat keras, yang setelah jeda sepersekian detik langsung kubalas dengan tamparan yang tak kalah kerasnya. Ada sedikit suara mendenging di telingaku. Tapi kita justru serentak tertawa lebar dan lepas. Kamu berceloteh tentang bagaimana momen itu mengingatkanmu kepada sebuah cerita yang kamu baca dalam kumpulan kisah Marquis de Sade yang sedang kamu senangi. Aku ingat, saat itu, aku merasa seolah ada sebuah lapisan es terakhir yang runtuh diantara kita. Dan aku telah begitu lama tidak merasakan perasaan selega itu, perasaan yang sangat familiar, yang sangat langka kurasakan dalam tahun terakhir.
Kita bahkan melanjutkan ke permainan kedua yang sepenuhnya berbeda, setelah kamu berpacaran dengan kekasihmu melalui situs sosial di internet, dan kemudian memintaku untuk menonton film bersama, kamu berkata, itu karena kamu ingin melakukan sesuatu bersamaku. Aku yakin kamu memang berniat menonton film itu, meskipun pada akhirnya kita tidak menonton film tersebut sama sekali.
Kali ini, hal yang kita lakukan sepenuhnya baru. Sebelum kita memulai, kamu meminta untuk kuikat, kusakiti, dan kupermalukan, seperti yang dahulu pernah satu kali kita lakukan saat masih tinggal bersama. Maka aku melakukannya. Kombinasi antara lilin dan guratan. Kamu meminta, jangan tinggalkan luka yang permanen. Maka, tidak seperti malam sebelum kita berpisah tahun lalu, tidak ada sundutan bara rokok dan guratan belati berkarat. Kali kedua ini, kita menyelesaikannya dengan cenderung cepat,… dan ketika ikatanmu terbuka, kamu tertawa-tawa bercampur kegemasan ingin membalas.
Wajahmu sungguh menggemaskan, namun pada saat yang sama aku juga merasakan perasaan terancam yang menggairahkan. Kamu, adalah lelaki pertama dan masih satu-satunya, yang bertukar peran denganku. Dimana kamu mencoba tenggelam dalam rasa sakit, terancam, dan tidak berdaya yang dibalut dengan berbagai rangsangan seksual; dan aku menyalurkan hasratku untuk mempermalukan, mendominasi dan menyakiti. Aku mengatakan terimakasih kepadamu, karena kamu membiarkanku melakukannya. Dan masih tertawa-tawa sambil berceloteh, kamu mengatakan hal yang sama.
Momen itu, adalah momen yang sungguh menyenangkan dan menenangkan bagiku. Aku merasa seolah kesuramanku perihal hubungan denganmu selama setahun kebelakang, secara seketika terhapus begitu saja. Aku menatapmu lekat sambil terdiam dan tersenyum kecil. Aku sungguh-sungguh merindukanmu, dan kedekatan kita yang seperti ini.

Kamu terus mengatakan bahwa kita harus bertemu lagi, dan aku harus bertukar peran denganmu, kamu berkata, bahwa aku harus mencoba rasa tetesan-tetesan lilin panas dalam keadaan terikat itu. Kamu sedari tadi memang menolak untuk menceritakan rasanya, dan bersikeras bahwa kamu harus membuatku mencobanya sendiri. Kamu tengah menegaskan hal itu, ketika mendadak kamu terdiam. Menyadari akan ada sesuatu, aku berhenti tertawa-tawa.

Kamu berkata, mmm… nggak jadi deh. Da, kita jangan hubungan badan lagi ya. Saya pengen temenan aja sama kamu.
Aku mencoba memperjelas, maksud kamu gimana?
Kamu menegaskan bahwa kamu ingin perubahan dalam hubungan kita, kamu ingin mencoba sekedar berteman denganku.

Apa tidak cukup jelas, kenapa aku terperangah? Sebelum kamu mendekat, apalagi yang aku anggap tersisa dari kita selain pertemanan? Seolah kamu harus perlahan membuatku gembira dan mulai terbuka, sebelum kemudian kembali membuangku lagi ketika aku lengah dan melayang, mencoba membuatku kembali terpuruk kedalam lubang hitam dimana kamu pernah meninggalkanku sebelumnya.
Setelah itu, kamu bahkan tidak mau memelukku.
Aku kemudian mengunci mulutku dan tidak membahasnya.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan bereaksi dengan datar. Aku ingin kembali mengunci rapat-rapat segala benteng perlindungan yang sudah kuruntuhkan sedikit demi sedikit di hadapanmu. Aku menyalakan komputer, dan mengakses internet. Sedikit keberuntungan, kekasihku yang tengah terjebak di Jakarta sedang online. Maka di depanmu, aku langsung menumpahkan kemuramanku kepada kekasihku. Aku memang ingin bercerita kepadanya, dan aku sangat membutuhkan canda-canda segar nya saat itu; namun aku sekaligus ingin menumpahkan kebencianku kepadamu, di depan matamu, dan bukan dengan kata-kata untukmu. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tapi aku menolak untuk berbicara langsung kepadamu.

Kamu tahu? Aku selalu diam-diam sedikit berharap kamu mengingat kata-kata yang kita pertukarkan satu tahun delapan bulan yang lalu itu. Bahwa setelah salah satu berubah pikiran, kita akan kembali begitu saja. Kenyataannya, selagi waktu mengalir, kamu lah yang berubah pikiran dan mulai memiliki beberapa kekasih sekaligus, seperti yang aku lakukan. Aku tetap diam selama ini, karena aku sadar betapa naïf nya pengharapan bahwa kamu masih akan menganggap perjanjian itu. Walaupun begitu, aku masih membiarkan sedikit harapan mengendap di pojokan, dan aku menunggu… satu tahun delapan bulan. Kekasihku itu mencoba menghiburku lewat layar chat, dengan menjadikannya bahan candaan. Dahulu, pernah ketika ia secara naïf menunggu seorang kekasih yang memintanya untuk menunggu; ia tetap menunggu orang itu selama satu setengah tahun. Ia berkata, bahkan sebodoh-bodohnya saya, saya nyadar dua bulan lebih cepet dari kamu. Ia sempat membuatku tersenyum. Tapi perasaanku masih terasa sungguh pahit. Dan kamu, kamu hanya bergumam-gumam kecil di sebelahku. Aku merasa dihianati, tertipu, dan aku benar-benar ingin membencimu!
Kamu berhasil membuat kita mengobrol sejenak mengenai apa yang kupikirkan, sebelum kamu terus mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain. Aku membenamkan kepala dalam bantal. Mataku secara sukarela mengalirkan air. Baru beberapa lama matahari terbit, dan kamu memutuskan untuk pergi.


Aku menghabiskan hari ini mengurung diri di tengah dinding-dinding merah kamarku, dengan lampu yang dimatikan. Aku menyalakan lagu keras-keras. Aku hanya ingin kebisingan, karena di tengah kebisingan lagu, erangan-eranganku tak akan terdengar. Aku tidak menginginkan ada sisa keheningan untuk berpikir. Dalam kebisingan yang intens, yang tersisa hanyalah emosi dan rasa.
Seperti yang kamu selalu tahu, kehilangan adalah kelemahanku yang terburuk.
Dan selagi kamu terus menerus membuatku terpuruk dengan melakukan permainan buka-tutup kepada lukaku, aku terus berharap aku bisa menghimpun kekuatan untuk membencimu. Bukankah dalam hidupmu yang kamu anggap permainan, aku hanyalah salah satu dari sekian permainan yang tersedia? Dan aku, sangat lemah dalam menerima hal itu.
Aku sempat berpikir untuk mencoba tidak menemuimu lagi, untuk waktu yang sangat-sangat lama. Ada rasa sakit dalam perasaanku, yang sungguh jauh lebih menyiksa dibandingkan sakit pada tubuh. Ia adalah sesuatu yang membuatku takut. Ia adalah bayangan pada cermin ditengah malam yang bercahaya minim, yang aku hindari. Ia menuntutku, untuk membalasmu.

Hari ini, dinding-dinding merah ini meredam suara dari kamarku yang dipenuhi dengan kebisingan dan berbagai ekspresi kegalauan yang agresif. Hingga aku tiba pada titik, dimana aku merasakan kebutuhan untuk mengkonfrontasi rasa kehilangan ini. Mungkin aku memang butuh untuk membencimu, tapi aku harus merangkul rasa sakit ini. Aku tidak ingin lagi dapat terjebak dalam perangkap menyakitkan yang sadar tidak sadar kamu ciptakan. Aku butuh untuk memahami seluk beluk diriku, dan lebih mampu untuk meresapi hidupku karenanya.


Zombie-zombie di luar sana, aku tahu mereka merasakan sakit,..namun bukankah mayoritas dari mereka memilih untuk menyangkalnya dan mengalihkannya kepada hal-hal delusional seperti posesi material, citra, agama, surga dan tuhan? Untukku sendiri, mereka yang tidak dapat memahami rasa bukanlah orang yang hidup. Dan orang yang menyangkal dan lari dari rasa sakitnya, tidak akan pernah memahami dirinya.

Sejujurnya, saat ini aku sangat ingin membencimu, tapi ada suara yang berkata di dalam diriku, bahwa mungkin suatu saat aku akan mengatakan terimakasih kepadamu untuk rasa sakit ini. Mungkin kemudian nanti, aku akan beranjak pergi dari kebutuhan untuk membencimu; orang yang sempat sangat-sangat aku sayangi.


I want to understand pain, in order to comprehend pleasure.
Without any understanding of one’s own feeling, there’s no point in living.

Selasa, 18 Agustus 2009

Kuburan

Kuburan,-menurut saya adalah hal yang cenderung absurd. Dan saya bukan lagi ngomongin ben populis yang bernama kuburan (walaupun ben itu juga absurd menurut saya, dan bakal segera dibuang segera setelah publik remaja mereka bosen sama sekelompok laki-laki dengan make-up ala KISS yang menari-nari bodoh,.semacam 'changcuters' versi metal gitulah buat kalian yang masih malas nonton tv).

Jadi supaya jelas, maksud saya disini adalah Kuburan dalam arti Pekuburan; graveyard. Komplek kapling-kapling organisme yang udah mati dan (akan segera) membusuk, tapi dipertahanin supaya orang-orang yang masih idup diatas tanah bisa pura-pura kalo mereka yang mati masih idup di dalem situ---atau seenggaknya bakal ngebuat mereka-mereka yang idup ngerasa kalo mereka mati bakal punya rumah, persis kaya waktu mereka idup (kalo waktu idup pengen tinggal di dalem boks-boks beton, mungkin wajar kali ya ngarep perasaan serupa juga didapetin waktu mati).
Yaya. Saya sadar banyak alasan orang-orang bersikeras buat masang kapling-kapling buat orang-orang tersayang mereka yang baru mati, selain alasan yang udah saya sebutin itu. Misalnya, alasan kalo di dalem agama mereka, hal itu disebutin sebagai cara ngeperlakuin orang mati secara layak. Karena, waktu mati nanti, bakal ada malaikat (atau setan, buat kalian hei para anak nakal) yang nemenin kita di dalem kapling tidur kita itu sambil nungguin dunia kiamat. Atau ada juga alasan supaya orang-orang yang mati itu bisa tiduran enak dan istirahat yang tenang, setelah cape ngejalanin hidup.


Buat saya sih, yang jadi masalah adalah kapling orang-orang mati yang menuhin jatah di bumi. Apalagi kelakuan orang-orang yang pengen kalo kapling-kapling kuburannya/keluarganya/sanak saudaranya pake disegel sama pualam, pager, beton, dan macem-macem itu. Terus kita turun temurun bayar biaya kapling (bagi yang mampu) supaya kuburan-kuburan yang malang itu gak ditimpa sama kuburan berikutnya. Saya mikir, apa jadinya kalo reproduksi semakin tinggi, dan (dengan sistem ekonomi dan kekuasaan yang apokaliptik semacam ini) orang-orang yang mati jumlahnya masif dan gak kekontrol? Apa kapling kuburan bakal ngebludak, dan orang-orang yang gak mampu bayar kapling buat dia idup (diatas tanah) bakal kegeser sama mereka-mereka yang mampu bayar kapling-kapling tempat tinggal para relasi mereka yang mati? Benar-benar ide yang absurd dan konyol, kuburan itu.
Masih mending kuburan yang cuma gundukan tanah dan nisan doang. Kalau yang dibeton dan dihias-hias sama pualam-pualam, arca-arca dan pager itu?
Dan kalau emang tujuannya "menyamankan" si mati, apa enak tiduran terus sambil bengong-bengong sampe hari kiamat? Ya, entah yang nemenin itu setan atau malaikat, kayaknya tetep aja bosen.

Saya sih milih buat percaya, kalo dah mati ya udahan. Ngebayangin kalo abis idup, terus mati, terus ternyata masih idup itu lumayan bikin saya stress. Idup aja udah lumayan capek ya, padahal masih bisa jalan-jalan dan maen-maen. Apalagi kalo mesti idup sama sesuatu yang gak saya kenal, bengong-bengong berdua sambil dikurung di boks, selama dua puluh empat jam dikali jumlah hari yang kesisa sampe hari kiamat. Astaga.

Saya bilang "saya milih buat percaya...blablabla..", soalnya jelas-jelas kita semua, ratusan juta manusia-manusia sok yakin yang masih berkeliaran diatas tanah ini; gak ada yang beneran tau (bukan sok tau) tentang apa yang bakal kita alamin setelah mati. Terutama karna pada umumnya, kita gak punya relasi-relasi yang mati, yang nyempetin balik lagi buat nyeritain apa yang mereka alamin setelah jantung mereka berhenti berdenyut.
Jadi, masih lumayan misterius; apa ternyata abis mati, "yaudah, tamat cerita". Atau setelah mati, ternyata memori kita masih idup, dan dalam memori itu kita ngalamin pemutaran ulang memori kita sepanjang idup (dengan kata lain, ngulang-ulang idup yang udah pernah kita jalanin waktu masih nafas). Atau ternyata kita reinkarnasi jadi babi atau sapi. Atau jalan-jalan sebagai hantu, atau pindah ke neraka atau surga, atau yang paling buruk ya menurut saya yang saya sebutin pertama tadi; bengong-bengong sama entah malaikat atau setan dua puluh empat jam kali jumlah hari yang kesisa sampe hari kiamat, dan gak bisa pindah kemana-mana dari tempat kita dibaringin. Oh. Mungkin sambil menghayati belatung-belatung yang lenggak-lenggok di sela-sela rongga mata kita (sedikit pilihan dari hiburan yang tersisa di dalam kuburan, nampaknya).

Saya kadang jadi suka mikir sendiri, kalo saya mati pengennya diapain ya? Maksudnya, saya ngarep baden saya diapain, dengan segala kemungkinan pengalaman-paska-kematian itu. Kalo dikremasi, lucu juga, tapi kalo ternyata baden kita belom bener-bener mati rasa setelah kita dinyatakan mati (secara ilmu biologi manusia); bayangan tentang ngerasain dibakar pelan-pelan sampe jadi abu gak kedengeran menarik. Ah. Tapi kalo gitu sih, dikuburin juga em...kurang 'menyenangkan' kayaknya. Ngerasain tiap detail sensasi indrawi di tubuh kita yang di dekomposisi pelan-pelan sama belatung-belatung, cecurut, cacing, kecoa, kumbang tai, serta segala teman-teman underground -bawah tanah- yang lainnya. Aww. Hihi. Atau ditenggelamin? Mati keabisan nafas dan kembung, terus ngeabisin sisa waktu sampe kiamat menghayati lumut-lumut yang intim menempel, dan kepiting-kepiting jail yang hobi nyubit pake capit, sambil merelakan tiap serpih daging dan kulit dicukil dikit-dikit sama ikan-ikan yang amis amit. (asa maksa yah, dikit. :D heheh)

Bayangan yang saya bayangin paling manis dan lumayan menyenangkan buat saya sih; setelah mati, idup saya sebagai manusia udahan --dengan kata lain, selesai udah urusan saraf-saraf indrawi, gak ada ngerasain fase dekomposisi baden paska mati--;
terus saya "idup" lagi, tapi bukan sebagai manusia. Bukan reinkarnasi jadi burung atau babi juga. Tapi jadi saripati tanah, yang diserap sama tanaman diatas tanah yang nutupin baden saya, yang ngebuat tanaman itu tumbuh subur dan cakep. Bukan berarti tanaman itu bakal jadi "tanaman berhantu" yang kalo dipotong tangkainya bakal berdarah merah, atau gimana...kesannya gak rido itu mah, sayanya. Visualisasi yang paling deket saya liat di film Fountain. Disitu, si Adam/manusia yang nyampe ke pohon kehidupan (yang ngejamin hidup abadi), malah ditumbuhin taneman dari tubuhnya. Dan dia malah mati, nyatu sama tanah.
Tanaman yang "tumbuh dari tubuhnya", tumbuh dengan lebat, sehat dan segar. Nah...kalo saya pengen hidup abadi, "hidup abadi" tipe gitulah yang saya pengenin. :) hidup abadi, tapi sebagai unsur alam (yang gak harus kasat mata), bukan jadi manusia melulu. Untuk proses matinya, sakit gakpapa, asal gak lama-lama amat. Makanya, kalo saya sekarat, koma atau apalah; jangan maksain saya tetep idup ya! Beneran, kalo gak ada harapan idup, saya pengen minta hak saya buat disuntik mati. Makanya, kalo saya sekarat dalam kondisi gak bisa komunikasi, tolong sampein wasiat saya ini yah, heheh.

Balik lagi, berarti ternyata, setelah saya mikir Kuburan itu absurd, saya pengennya dikubur juga kalo mati. Tapi saya gamau kuburan saya ada di komplek kuburan yang konyol itu. Pengennya ditanemin tanaman kesukaan saya diatas tanah yang nutupin saya. Dan setelah tanaman itu tumbuh, saya gak bermasalah sama sekali kalo ada kuburan laen yang perlu dibuat di tanah tempat saya dikubur. Siapa saya, buat ngeklaim tanah itu "punya" saya sampe akhir masa?

Ah. Saya udah mulai ngelantur lagi nih rasanya..
Hmm...tadinya saya mu ngomongin apa ya.
Oh ya.

Tapi, diluar pikiran saya kalo nguburin orang kedalem boks-boks itu aneh,...saya kok rasanya seneng-seneng gimanaa...gitu, sama citra pekuburan. Terutama pekuburan tua, hehe. Pekuburan tua yang udah rada ancur-ancur, cenderung gak kerawat dan dirambatin tanaman, dan ada kuburan-kuburan yang udah kebuka-nya, gara-gara hujan, dll selama berpuluh-puluh taun. Yang berarti, tulang belulang yang belom sepenuhnya didekomposisi itu berada dalam posisi semi terekspos, dan sedikit mengering.
Itu semua seolah ngasi atmosfir dan suasana imajinasi yang misterius buat saya. Toh, gimana juga, kematian dan kehancuran alami itu masih misterius dan eksotis.
Dark, dark, macabre.
Gelap, eksotis, menakutkan, bikin penasaran yang cenderung senang.
:D ah. Saya jadi pengen kencan ke Kuburan tua. Sekalian belajar gambar tentang tema-tema gelap juga, langsung dari objeknya.
;)

Nah. Ada yang mau nemenin saya.?

Selasa, 19 Mei 2009

Ripples of Action

“We shall never notice even how far the ripples of our most simple act will go.”


Awal maret tahun lalu, baik saya dan dia, tidak pernah berhasil menduga apa jadinya hasil dari keputusan kami untuk mempertahankan prinsip masing-masing—dimana akhirnya prinsip kami tidak bisa saling bertemu. Titik penentu, yang membawa perubahan besar dari garis keseharian kami secara keseluruhan. Perubahan bahkan ke setiap aspek terkecil dalam keseharian kami saat ini. Apapun yang kami mungkin duga; nampaknya yang terjadi pun luput dari imajinasi…perjalanan hasil yang bukan gemilang dan tidak juga tragis;--keseharian kami saat ini.
Saat momen saya dan dia itu terjadi, (seperti yang saya catat di jurnal saya tahun lalu) saya memiliki firasat yang meresahkan bahwa ini salah satu momen kecil penentu dalam hidup saya. Tapi tetap saja saya melanjutkan apa yang saya rasa ingin lakukan saat itu.


Dari melamunkan hal sederhana yang terjadi dalam perjalanan personal saya,…saya mulai melantur, mengkhayalkan, apa seperti firasat seperti itu juga muncul, ketika Adam dan Eve berada dalam titik penentu mereka; momen dimana mereka memutuskan untuk memakan Buah Pengetahuan (yang berakhir dengan disembunyikannya Pohon Kehidupan dari pandangan mereka)..?
Sebuah keputusan lugu, yang membuat mereka dan seluruh keturunannya terjebak di neraka yang mereka bangun perlahan, neraka dimana tempat mereka tinggal memanas, dimana makhluk-makhluk firdaus mati satu persatu.
Neraka dimana para keturunan mereka saling memperbudak dan terjebak di dalam sebuah sistem yang mempenjarakan keseluruhan dari bekas taman firdaus.
Sebuah neraka, dimana kita sedang membusuk dan bekerja, sekolah, dan mempekerjakan pekerja hari ini.

Momen yang sama juga terjadi ketika koloni kecil pemburu-peramu tiba di lengkungan subur Timur Tengah, dan menemukan bahwa mereka dapat menanam gandum; bahwa para sapi dan domba akan jinak kepada mereka sekedar dengan terus memberinya makan. Momen dimana mereka memilih untuk menempatkan makanan mereka dimana mereka menginginkannya; momen dimana koloni tersebut memutuskan menjadi petani dan penggembala; layaknya Cain dan Habil. Sama sekali mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa keturunan mereka akan melanjutkannya dengan menjadi masyarakat pengeksploitasi, masyarakat industri modern hari ini.


Saat kami berada dalam titik itu, baik saya dan dia masih dapat memundurkan keputusan kami, dan kembali ke pola harian kami yang semula.
Ternyata bahkan dalam sekedar satu tahun setelahnya pun terlalu terlambat untuk mundur. Terlalu banyak hal berubah dari keseharian kami hingga kami sama sekali tidak mungkin kembali.

Saya sadar saya sekedar bernostalgia saat ini.
Sebuah nostalgia, secara keseluruhan tidak bisa mempengaruhi hasil dari keputusan yang telah berlalu.

Namun nostalgia, refleksi ulang ke masa yang lalu ini, apa gunanya sekedar untuk menerima, berdamai dengan yang telah berlalu? Retrospeksi, introspeksi, dan bila ada (serta bisa), memperbaiki kesalahan (bila akhirnya saya simpulkan sebagai hal yang salah) yang telah dilakukan sebelumnya?

Bila memang seperti itu,… apa refleksi kepada perjalanan Eve-Adam, Cain-Habil yang sama sekali tidak bisa kita rubah itu, dapat menginspirasikan apa saja yang harus kita ubah untuk memperbaiki kesalahan yang terlakukan pada sepuluh ribu tahun silam.?

Andai saja refleksi ulang yang satu ini berada dalam tingkatan kompleksitas yang sama dengan kisah cinta, tentunya kita yang tersesat di neraka ini sudah menemukan jalan untuk membangun firdaus diatas reruntuhan neraka…

Selasa, 12 Mei 2009

Sick zombies

Whoever told me that human is holier than any other animals,
they've been telling me lie.
Whoever told me that human's life more important than the life of every other species in the earth,
they must be such a life killer.


Whoever told me that human existence gave blessed progress to the whole earth,
well they must be a dumb fuck.
Whoever been telling me that technology made life's more bearable,
they must have such a void life.


Whoever been telling me that what made human being human is our normative values, materialistic standard, decent behaviors, living behind safe concrete, possessive friendship, rapid-productive life, predictable-safe(/boring) love relationship, our ability to build modern civilization, our 'clever' way to survive (producing-consuming more food, products, than we ever needed--only to give ourselves some faux sense of securities), being A part of The Great Machine...



Well they must be zombies.



crazy, sick, psychopathic zombies; infested with their arrogance, guilt, fear, fear, cock fear, cunt fear, death fear, fear, zombie, holy, sick, 'intelligent', sick, polluted, sick, miserable, sick, void, sick, normative, sick, fetish, sick, frantic, sick, sick, proud, pathetic, sick zombies..



..
When Adam (Human) meets Eve (Knowledge about life), and their losing their innocence;
deciding to be agriculturalist rather than hunter-gatherer/some kind of clever animal.


They might never know, how they just dig a grave to hell for the whole earth.

Sabtu, 01 November 2008

Menjamuri Psikologi

Bulan yang sama tahun yang berbeda,.tapi masih dengan deja vu yang serupa, akan paranoia yang terus berulang dengan monster-monster yang terus berganti.

Wujudnya terus berekspansi; mulai dari tokoh-tokoh fiksi hingga 'teman-teman' di dunia busuk ini. Menghantui mimpi-mimpi dan hari, dengan ketakutan yang paling permukaan hingga sudut yang paling mendalam. Rasa klasik akan hari-hari yang terus diseret dengan paksa terus berulang, dengan apologi dan penyangkalan akan mati yang sungguh masih serupa,..serupa banalnya hingga ia bahkan menjadi hantu yang baru.
Ah,..sungguh aku ini seorang penakut yang buruk.
Berulang kali meruap amarah dan semakin membenci hari, diri, dan dunia yang semakin nampak seperti ilusi. Alienasikah ini?
Kemarin-kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa semua ini memang sekedar ilusi...namun sungguh, apakah ada yang sebetulnya nyata? Keyakinan akan sesuatu tidak membuatnya menjadi bukan ilusi. Lompatan lompatan dari dongeng ke dongeng yang memabukkan, yang semakin saja membingungkan. Akankah datang lagi hari dimana semua orang nampak seperti robot-robot yang (lagi-lagi) menakutkan? Mayat-mayat hidup dengan tawa manis yang mekanis, derai tangis yang taktis..

Minat terus berganti seiring bergantinya bentuk teror kegalauan. Waktu kian meruntuh menjadi satu wujud lubang hitam yang menghisap kedalam kekosongan; pun minat akan kehidupan tidak terus berkembang. Seperti tanaman yang sendirian, ia justru semakin melayu.

Nyaris penghujung tahun; angka-angka penanggal yang sama seperti tahun lalu. Tidak ada perkembangan yang signifikan dalam meramu obat demi mengatasi paronia ini.
Lagi-lagi merasa terusir dan kehilangan 'tempat' bernaung yang kini berwujud sekumpulan manusia. Betapa kini mendadak mereka nampak begitu alien dan menyesakkan.

Hari edukasi tipu yang bodoh dan membosankan.
Kemarin itu, datangnya hujan selama dua hari penuh dan terik mentari pada hari berikutnya, membangkitkan sedikit harapan temporer.
Jamur,----ya, jamur! Ia tentu akhirnya akan datang.
Jamur tawa, 'magic mushroom' yang sering disebut-sebut di kisah-kisah klasik itu,, seringkali pada waktu-waktu sebelumnya, ia membangunkan harapan.
Dan benar, datanglah ia ditengah kebosanan akut yang melanda. Bahkan tanpa perlu kutukar dengan nilai tukar produk peradaban yang bodoh itu. Ia datang dengan bebas dan gratis, lagi-lagi dari seorang temanku yang sangatlah baru.


Astaga,-aku sangat butuh mengusir biru!


Maka dengan bantuan sedikit bumbu ia mengisi perutku yang sama sekali tidak diisi makanan sejak hari sebelumnya.
Menit demi menit berlalu,..warna-warni di tellievisiie menari-nari semakin jadi. Tawa membahana dari film pada dvd. Dan jamur ini, sesuai reputasinya,..ia membuaskan imajinasi, warna warni fantasi, denting-denting irama geli yang menggila.... dan persis seperti spiral yang berputar semakin cepat, semua warna dan bunyi itu beradu dan menjadi semakin familiar. Rasa familiar yang saat itu justru aku ingin hindari. Ia menjelma menjadi sosok-sosok diri, manusia, dan hawa-hawa suasana yang memaksa untuk dihadapi.

Sialnya dengan jamur ini, ia selalu memaksa untuk tetap terbangun dan berhadapan dengan hantu-hantu mental yang ingin aku jauhi. Aku meringkuk dalam-dalam. Semua kata berhamburan di kepala. Jerit frustasi menggema di rongga kepala yang terasa seperti bola sepak yang hanya berisi udara. Fisikku menjelma menjadi sekedar bungkus. Sungguh, rasanya semakin nyata saat itu, aku, hanyalah aku. Sama sekali bukan tubuhku, sama sekali bukan imaji yang nampak dariku. Sosok tak berwujud yang mengambang dan terus berotasi dengan gerakan spiral kedalam. Seperti angin beliung mini. Sosok-sosok dan diri-diri yang menghantui ketakutanku memaksaku berkonfrontasi. Kekasih-kekasihku yang terasa semakin seperti imaji tanpa arti dari hari ke hari. Teman-temanku yang diam-diam kuanggap saudara, yang belakangan ini perlahan-lahan menjelma menjadi wujud hantu-hantu baru yang memancing paranoiaku. Kesepian makro yang terus merangsaki diri. Lingkungan yang robotic dan alien. Dunia yang begitu absurd dan menuju kehancurannya sendiri. Masyarakat utopis yang begitu jauh. Berbagai ilusi bodoh yang terus dipercaya orang-orang (yang juga terus mencoba memaksamu untuk ikut mempercayainya), dan perlahan seolah menjadi semakin nyata.










Aku menghabiskan setengah hari dalam kondisi mabuk jamur; - mabuk satu-satunya yang tidak memanipulasi emosimu, namun justru mengaduk-aduk psikologimu, dan membiarkanmu dalam keadaan tetap sadar, hingga kamu dapat mengingatnya.

Sudah malam ketika aku betul-betul dapat memegang kontrol otakku untuk dapat berbicara. Karena memang ketika menjamur, sungguh sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pun ia adalah seorang kekasih. Sangat asing rasanya ketika aku lalu menatap cermin di kamar mandi. Sungguh sulit dipercaya bahwa refleksi cermin itu memaksakan untuk menjadi sosok imaji akan diriku. Ia nampak begitu asing.

Tapi mengusir paranoid ini, menjamur terasa membantu. Rasanya seperti lega dan lebih jernih, seperti baru saja dicuci.
Lelehan hitam di sekitar mataku mengingatkan tadi rasanya aku memang dengan lebih lega dan jujur terus berganti-ganti tanpa pola; antara tangis, diam termangu, dan tertawa. Ekspresi yang terasa tidak hampa karena kejujurannya yang absolut.
Ketika mendapatkan sedikit energi dan kontrol fisik yang perlahan kembali, aku mencoba melakukan beberapa komunikasi (ya, yang termediasi). Meluruskan beberapa hal yang ikut menjadi sumber kembali mengakutnya fase paranoidku, dengan menepiskan keraguan yang kumiliki sebelum menjamur tadi, bahwa jawaban yang kudapat adalah konfirmasi bahwa ketakutanku merupakan kenyataan.
Disamping hasil konfirmasi bahwa ternyata ketakutanku adalah ilusi bukannya kenyataan, betul, jamur magis/ jamur meditasi/jamur khayal ini adalah substansi yang memicu badai psikologis. Tapi yah, badai tidak selalu berakhir dengan depresi yang baru :D hasil badai ini benar-benar mengalahkan antidepressan,--tipe apapun!